Tampilkan postingan dengan label hiburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hiburan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 November 2019

LAPAN Beri Bimbingan Warga Sukabumi Perakit Helikopter

ilustrasi
MEDIA ISLAM -- Helikopter rakitan karya Jujun Junaedi (45), warga Sukabumi, Jawa Barat menjadi sorotan media akhir-akhir ini. Jujun yang kesehariannya bekerja di bidang las dan mesin bubut ini merakit helikopter dengan menggunakan mesin penggerak generator set (genset) 2 silinder bervolume 700 cc dengan kekuatan 24 HP berbahan bakar premium. (baca)

Terkait dengan hal tersebut, Tim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) meninjau lokasi perakitan helikopter di Kampung Cibubuay, Desa Darmareja, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat pada Selasa 19 November 2019.

Tim LAPAN hadir langsung ke lokasi atas instruksi langsung Menteri Riset, Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro.

Peneliti muda Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN, Teuku Mohammad Ichwanul Hakim kepada Jujun menyampaikan edukasinya perihal helikopter. Tim LAPAN dan Jujun berdiskusi banyak hal, salah satunya mengenai teknis wahana terbang (helikopter), prinsip dasar helikopter, komponen-kompen utama, teknis dasar dan mekanikal soal.

Helikopter rakitan karya Jujun Junaedi (45), warga Sukabumi, Jawa Barat menjadi sorotan media akhir-akhir ini. Jujun yang kesehariannya bekerja di bidang las dan mesin bubut ini merakit helikopter dengan menggunakan mesin penggerak genset (generator set) 2 silinder bervolume 700 cc dengan kekuatan 24 HP berbahan bakar premium. Terkait dengan hal tersebut, Tim LAPAN hadir meninjau lokasi perakitan helikopter di Kampung Cibubuay, Desa Darmareja, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat pada Selasa (19/11). Kehadiran ini atas instruksi langsung Bambang Brodjonegoro, Menteri Riset, Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional kepada Kepala LAPAN. Teuku Mohammad Ichwanul Hakim (Ichwan) peneliti muda Pusat Teknologi Penerbangan saat berdiskusi dengan sang perakit helikopter menyampaikan edukasinya perihal helikopter seperti mengenai teknis wahana terbang (helikopter), prinsip dasar helikopter, komponen-kompen utama, teknis dasar dan mekanikal soal.

Kabag Humas LAPAN, Jasyanto yang turut hadir dalam peninjauan ini berharap karya Jujun ini bisa memotivasi bagi kalangan milenial untuk bisa berinovasi dan berkarya di bidang teknologi khususnya penerbangan. “Apabila nantinya helikopter ini tidak mampu untuk terbang atau tidak memenuhi persyaratan untuk terbang agar dapat dimanfaatkan oleh warga sekitar ataupun masyarakat luas sebagai wahana edukasi. Hal ini untuk mengingatkan kembali bahwa ada anak muda bangsa Indonesia yang memiliki pemikiran ke depan dengan cita-cita hasil karya di bidang teknologi yang dilakukan secara otodidak dan biaya sendiri”, ujar Jasyanto.

Jadi bagi kalian generasi muda yang memiliki inovasi karya teruslah berusaha semaksimal mungkin dan yang paling penting jauhilah narkoba buat hidup kalian menjadi positif dan motivasi bagi orang lain.

#sukabumi #visitsukabumi #jawabarat #infosukabumi #kreatif #helikopter #mesin #kusukabumiku #exploresukabumi #LAPAN #Indonesia

Kamis, 07 November 2019

Kado Terindah Al-Azhar untuk TGB dan Indonesia

ilustrasi
MEDIA ISLAM -- KH. Imam Jazuli, Lc. MA.*

Hubungan erat ulama Nusantara dengan jaringan Timur Tengah sudah menjadi semacam sunnah. Setidaknya, uluma-ulama Nusantara jebolan Universitas al-Azhar, Mesir, sudah banyak berjasa membentuk identitas Islam Nusantara. KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH. Musthafa Bisri (Gus Mus), dan M. Quraish Shihab adalah sekelumit contohnya.

Jejak-jejak tokoh pentolan al-Azhar dari Nusantara tersebut dalam memperjuangkan Islam moderat sangat terang benderang. Misalnya, tahun 2017 dalam Konferensi Multaqa Nasional IV Alumni Al-Azhar, Lombok, M. Quraish Shihab mengatakan, “kewarganegaraan tanpa membedakan suku, agama, keyakinan adalah salah satu prinsip ajaran Islam dan bukan hasil dari impor.”

Islam moderat, bagi Quraish Shihab, tidak hanya terlihat pada produk pemikiran melainkan juga tampak dalam perilaku keseharian. Pemikiran dan perilaku moderat ini menjadi prinsip utama dalam memahami teks-teks suci agama. Karenanya, dalam konteks warga negara, umat muslim dan non-muslim mempunyai hak dan kewajiban yang sama.

Dengan mengatasnamakan alumni al-Azhar, Quraish Shihab menutup sambutannya dan mengatakan, “seluruh warga dalam satu negara harus bekerjasama, tanpa membedakan ras dan agama dalam bekerja.” Deklarasi Islam Moderat dalam Konferensi Al-Azhar tersebut selain dihadiri Presiden Joko Widodo juga dihadiri Menteri Agama (Lukman Hakim Saefuddin), Gubernur Nusa Tenggara Barat (Tuan Guru Bajang Zainul Majdi), dan seluruh alumni al-Azhar dari seluruh dunia.

Sosok Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi merupakan sosok “unik” dan representatif untuk spirit moderatisme ala al-Azhar. Disebut unik, TGB Zainul Majdi semula didukung oleh kelompok-kelompok Islam radikal dalam barisan pendukung Prabowo Subianto. Tetapi, tak lama kemudian, spirit moderatisme Islam ala TGB Madji dirasa tidak cocok berada dalam barisan mereka, melainkan lebih cocok berada di partai-partai koalisi kubu Jokowi-Amin.

Akhirnya, berjuang bersama partai-partai koalisi pendukung Jokowi-Amin, TGB Majdi gigih menegakkan Islam Moderat ala Al-Azhar. Puncaknya, TGB Zainul Majdi dipandang cukup memberikan kepuasan kepada al-mamaternya. Alhasil, Universitas al-Azhar, Kario, Mesir diwakili oleh Grand Syeikh Prof. Dr. Ahmed al-Tayeb MA memandang perlu untuk memberikan penghargaan kepada TGH Majdi sebagai sebagai contoh alumni dan tokoh penggerak Islam Moderat di Dunia. Penghargaan itu pun diserahkan di Gedung Grand Shaikh, Kario.

Ajaran Islam Moderat (Wasathiyyah Islam) ala Al-Azhar bukan perkara politik. Sebaliknya, politik digunakan hanya sebatas kendaraan dalam memperjuangkan Islam. Penghargaan Al-Azhar sebagai sebuah institusi terhadap TGB Madji dapat dimaknai sebagai pengokohan representasi al-Azhar di dunia Islam. Sehingga, tidak semua alumni boleh menjadi representasi al-Azhar. Jika ada alumni al-Azhar yang berseberangan dengan prinsip moderat maka berhati-hatilah dan waspadailah!

Penghargaan al-Azhar kepada TGB Majdi juga dapat dimengerti sebagai sinyalemen khusus kepada alumni-alumni Al-Azhar lain di bumi Indonesia. Selagi masih ingin menyandang gelar “alumnus Al-Azhar”, maka perjuangkanlah Islam Moderat. Sebab, belakangan ini institusi al-Azhar mencium adanya aroma pembusukan nama baik al-Azhar, ketika mulai bermunculan da’i-da’i radikal-fundamental yang bangga menyandang status sebagai alumni al-Azhar.

Masa depan Islam moderat, di mata institusi al-Azhar, ada di tangan alumni-alumninya. Gus Dur, Gus Mus, dan Quraish Shihab adalah angkatan lama. Karenanya, para penerus jejak perjuangan alumni-alumni al-Azhar yang berhaluan moderat ini harus diteruskan. TGB Majdi menjadi pilihan dan sekaligus salah satu tumpuan al-Azhar di Indonesia dalam memperjuangkan Islam moderat, setidaknya dalam periode kepemimpinan Jokowi-Amin 2019-2024.

Secara umum memang layak dikatakan bahwa Tuan Guru Haji Zainul Madji pantas meraih penghargaan itu. Sebab, beliau sangat gigih mendakwahkan manhaj wasathiyah (moderatisme). Selama bergaul dengan Tuang Guru Bajang, beliau terlihat sangat berani menampilkan sikap, pikiran dan perkataannya. Bahkan, beliau berani untuk mundur selangkah demi cita-cita keharmonisan sosial, jika langkah awalnya serasa kurang pas, tentu tanpa mengorbankan prinsip.

Lompatan dan manuver TGB Majdi dari Prabowo ke Jokowi. Sekali lagi, politik bukan tujuan melainkan sebatas sarana atau kendaraan. Jika tujuan seseorang berjalan adalah arah barat, kemudian kendaraan mengarah ke timur, maka ia memang saatnya mengganti kendaraan. TGB Majdi melakukan “selangkah mundur” demi cita-cita keharmonisan sosial, tanpa mengorbankan prinsip. Prinsip utama TGB Majdi tetap wasathiyah (moderatisme Islam) khas al-Azhar.

Moderatisme ala Al-Azhar ini dibutuhkan sekali, terlebih di tengah-tengah meningkatnya radikalisme dan fundamentalisme belakangan ini. Umat muslim Indonesia membutuhkan sosok nasional seperti TGB Majdi untuk menopang kepemimpinan Jokowi-Amin ke depan.

Setelah NTB menikmati kepemimpinan TGB selama dua periode terakhir, sudah saatnya masyarakat NTB menginfakkam TGB Majdi untuk publik nasional. Pengabdian dan perjuangannya tidak hanya dibutuhkan dalam ruang lingkup terbatas melainkan dibutuhkan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Dalam konteks penegakan Islam Moderat, Al-Azhar berdiri di belakang TGB, hal itu dibuktikan dengan adanya penghargaan terindahnya ini; sebagai kado paling romantis untuk TGB dan rakyat Indonesia, baik di era Jokowi-Amin sekarang maupun pemimpin-pemimpin berikutnya.

*Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.



adalah-kado-terindah-al-azhar-untuk-tgb-dan-indonesia?page=2.

Editor: Husein Sanusi


Jumat, 30 Agustus 2019

Sabtu Malam, Pemprov DKI Jakarta Gelar Jakarta Muharram Festival

ilustrasi




MEDIA ISLAM -- Sebanyak 2.600 orang akan mengikuti Pawai Obor dalam acara Jakarta Muharram Festival yang digelar di sepanjang Jalan MH Thamrin, Gambir, Jakarta Pusat tepatnya dari Patung Kuda Arjuna Wihaha hingga Bundaran Hotel Indonesia (HI) pada Sabtu (31/8/2019).

Acara Jakarta Muharram Festival ini digelar untuk menyambut Tahun Baru 1441 Hijriah.

Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Saefullah, mengatakan, Pawai Obor bakal digelar mulai pukul 19.00 sampai 19.30. Rangkaian kegiatan Jakarta Muharram Festival akan dimeriahkan dengan Pawai Obor yang disertai atraksi tari, lagu religi, dan salawat nabi, serta artis band nasional.

“Selain Pawai Obor dan beragam atraksi, ada pula tausiyah dan doa bersama yang akan dilakukan dalam momen pergantian tahun Hijriah tersebut,” ujar Saefullah di Balai Kota DKI, Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (29/8/2019).

Menurut Saefullah, kegiatan ini juga dilengkapi dengan Halal Culinary Festival yang berlokasi di dua titik utama, yaitu Jalan Kebon Kacang Raya dan Jalan Imam Bonjol. Melalui Halal Culinary Festival, masyarakat dari berbagai latar belakang dapat menikmati wisata kuliner bersama-sama pada suasana akhir pekan di Ibu kota.

Kegiatan Jakarta Muharram Festival juga akan dihadiri oleh duta besar dari negara-negara sahabat termasuk negara-negara yang memiliki kota berstatus Sister City dengan DKI Jakarta.

Selain itu, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah juga akan turut hadir dalam kegiatan yang dimeriahkan melalui tiga panggung hiburan di sekitar Bundaran HI itu.

Grup band dan artis

Jakarta Muharram Festival akan menghadirkan berbagai grup band. Sejumlah grup band, seperti Potret, Wali, Kotak, Koesplus Junior, Kanda Brothers, Jiung Band, dan Hijab Band akan menghibur warga yang hadir.

Selain itu penyelenggara juga menampilkan sejumlah penyanyi dan artis terkenal, antara lain Pasha, Opick, Wika Salim, dan Takaeda. Sementara, dalam rangka mengisi momen akhir tahun 1440 Hijriah. akan hadir Ustaz Maulana dan Ustaz Syamsuddin Noor.

Adapun rangkaian acara akan dipandu oleh host terkenal seperti Irfan Hakim, Fadli-Fadlan, Arie Untung, Fenita Arie, dan Shara.

Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Saefullah, menambahkan, kegiatan yang dimulai sejak pukul 17.00 sampai 23.00 ini akan memiliki dua kali jeda (istirahat) untuk pelaksanaan salat Magrib dan Isya berjamaah.

Guna mempercepat massa yang akan mengambil air wudhu, Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Keselamatan DKI dan PAMM Jaya telah melakukan persiapan.

Di antaranya menyediakan 10 titik wudu di titik terluar jalan-jalan sekitar pusat acara di Bundaran HI. “Masyarakat disarankan agar membawa sajadah ataupun alas lainnya untuk kelancaran ibadah salat berjamaah,” ungkap Saefullah. (sumber)

Rabu, 07 Agustus 2019

Kenakan Kain Sarung Bulan Bintang, Yusril Kirim Cuitan Ini dari Makkah

Yusril Ihza Mahendra bersama pengurus NU (ilustrasi)
MEDIA ISLAM -- Wafatnya Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar, Sarang, Rembang, KH Maimoen Zubair meninggalkan duka mendalam bagi umat Islam dan bangsa Indonesia.

Banyak tokoh agama, tokoh nasional, elite politik yang merasa kehilangan dan bersedih atas kepergian ulama kharismatik tanah air tersebut.

Salah satunya, Ketua Umum DPP Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra yang hadir langsung untuk menyolatkan Ulama yang akrab disapa Mbah Moen itu di Makkah, Arab Saudi.

Yusril bersama Ketua PBNU (ilustrasi)


"Mbah Moen adalah kiai dan ulama karismatik yang senantiasa konsisten dengan aqidah dan keyakinannya. Beliau wafat ketika sedang berhaji. Jenazah nya saat di sholatkan saya hadir saat menyolatkan," kata Yusril kepada SINDOnews, Rabu (7/8/2019).

Yusril mengaku, perasaannya cukup sedih dan terharu jika mengenang masa hidup dari Mbah Moen. Almarhum dianggap sosok yang jenaka dan bersahaja.

Yusril Ihza Mahendra dan NU (lustrasi)


Dia menganggap, Mbah Moen tipikal ulama Jawa yang selalu tenang dalam bersikap, cara berbicara yang lemah lembut dan persuasif. Menurutnya, di situlah daya tarik dakwah ulama Jawa.

"Jauh terkesan dari sikap garang, over reaktif apalagi bermusuhan," tutur pakar Hukum Tata Negara ini.

Yusril Ihza Mahendra dan keluarga menunaikan ibdah haji 2019 (twitter)


Yusril mengaku berkeyakinan bahwa dakwah yang ditunjukkan Mustasyar PBNU itu sangat cocok dengan suasana masyarakat Indonesia yang majemuk. "Indonesia tetap Indonesia. Namun nilai-nilai Islam tetap pula menjiwai setiap gerak dan langkah bangsa kita menuju masa depan yang cerah," ujar mantan kuasa hukum Jokowi-KH Ma'ruf Amin ini. (sumber)


Sabtu, 27 Juli 2019

Mengenal Afriansyah Ferry Noor yang Disiapkan PBB Menjadi Calon Menteri di Kabinet Jokowi-Maruf Amin Mendatang

Afrianysha Noor bersama Presdien Joko Widodo
MEDIA ISLAM -- Partai Bulan Bintang dilaporkan telah menyiapkan dua calon menteri jika Presiden terpilih Joko Widodo meminta kader PBB bergbung pada kabinet Jokowi-Maruf Amin mendatang. (baca)

Ketua Bidang Pemenangan Presiden di PBB, Sukmo Harsono mengatakan, jika diminta Jokowi memberikan nama, partai sudah menyiapkan dua nama calon menteri yang dinilai sesuai kriteria tersebut. "Prof Yusril dan Sekjen Afriansyah Noor siap pasang badan all out membantu Pak Jokowi dan Kiai Ma'ruf Amin," ujar Sukmo saat dihubungi Tempo pada Senin, 15 Juli 2019.

Selain Ketum PBB Yusril Ihza Mahendra juga ada sekjen Afriansyah Ferry Noor atau akrab disapa Ferry.

Menurut situs PBB Jatim, Ferry merupakan kader loyalis Yusril yang meniti karir dari bawah. Dia merupakan mantan Ketum Brigade Hizbullah PBB badan otonom yang mempunyai kiprah kemanusiaan di seluruh Indonesia. (sumber)

Ir. Afriansyah Ferry Noor, M.Si di amanahkan untuk menduduki jabatan Sekjend Partai Bulan Bintang (PBB) yang baru menggantikan Sdr. Jurhum Lantong pada Rapat Pleno Rabu (8/2/2017),  yang dihadiri oleh majelis Syuro, unsur BPH dan Seluruh Departemen.
Dalam pernyataannya Ferry panggilan Afriansyah Ferry Noor menyatakan ”  innalilahi wa inna ilaihi Roji’un, amanah ini sangat berat dan saya sudah sampaikan kepada tim resuffle dan ketua umum jika masih ada kader atau pengurus yang lebih layak dan lebih baik, mohon diberikan dahulu kepada mereka, namun ketua umum dan tim resuffle alhamdulilah mempercayakan amanah ini kepada saya. insyaallah saya terima dan saya mohonkan kepada seluruh pengurus untuk bersama dan bahu-membahu membesarkan partai agar partai PBB ini dapat kembali berjaya dan memenangkan PEMILU 2019″
Ketua umum DUTA Yusril dan mantan ketua Brigade Hizbullah kelahiran Jambi , 20 April 1972 ini pun menambahkan ” kedepan kita akan menambah Speed (gerak cepat) dalam hal konsolidasi pengkaderan pada seluruh indonesia..

Kamis, 25 Juli 2019

NU-Muhammadiyah Jalin Kerja Sama Filmkan KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asyari

MEDIA ISLAM -- Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) PP Muhammadiyah bekerjasama dengan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang merilis film Jejak Langkah 2 Ulama Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy’ari.

Film ini rilis berangkat dari kondisi bangsa Indonesia dari banyaknya kekerasan, bom, terorisme hingga cacian dan berbagai persoalan sering mengatasnamakan Islam.

“Dari situlah renungan awal munculnya gagasan film ini. Kita ingin menghadirkan Islam dengan baik sebagaimana ajaran Nabi Muhammad SAW yang menyerukan perdamaian Islam yang RahmatanLil Alamin. Bahkan saat bicara saja Nabi dengan cara baik dan sabar,” kata Sukriyanto AR, Ketua LSBO PP Muhammadiyah dalam Konferensi Pers di PP Muhammadiyah, Yogyakarta.

Film yang rencana akan digarap pada Agustus 2019, kata Sukriyanto juga erat kaitannya dengan sejarah dua ormas yang selama ini berkiprah untuk bangsa Indonesia yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).

“Nah, kedua ormas ini didirikan oleh kedua tokoh yang pernah belajar dari guru yang sama, yakni Kiai Sholeh Darat. Walaupun tidak bareng tahunnya, selesih sekitar empat tahun yang kemudian sama-sama belajar di Bangkalan,” kata Sukriyanto AR.

Film ini merupakan film ke-3 LSBO PP Muhammadiyah setelah sebelumnya sukses membuat film Meniti 20 Hari, kisah perjalanan AR Fachruddin dan 9 Putri Sejati tentang kebangkitan kaum Perempuan Aisyiyah.

Film Jejak Langkah 2 Ulama ini kata Sukriyanto AR, ditargetkan bukan hanya untuk masyarakat perkotaan tetapi juga masyarakat pinggiran yang tidak bisa mengakses bioskop.

“Maka dari itu, kami konsepkan pemutaran filmnya dengan ‘pop art’ dan mendatangi penonton yang ada di daerahnya masing-masing,” jelas Sukriyanto AR.

Dalam pemaparannya, Sukriyanto AR mengibaratkan kedua sosok ulama ini laksana air yang terus menjadi sumber kedamaian bagi bangsa.

“Kiai Dahlan saya ibaratkan sebuah mata air yang mengeluarkan mata air yang jernih, sejuk, bening dan menyegarkan. Airnya mengalir kemana-mana dan tempat yang dilewati air itu menjadi subur, damai dan toleran. Sementara Kiai Hasyim Asy’ari saya ibaratkan sebagai sebuah telaga yang airnya juga jernih, putih dan bening. Orang datang dari mana-mana menimba air di telaga itu sehingga menyegarkan,” paparnya.

Lebih jauh Sukriyanto AR berharap film ini nantinya bisa mengedukasi bangsa, masyarakat khususnya generasi muda tentang dua ulama yang mengajarkan Islam yang damai, teduh, toleran, mencerahkan, dinamis, membangun dan mempersatukan bangsa.

“Kedua Ulama ini telah mengajarkan kepada kita untuk berdakwah dengan cara yang menyejukkan, menyegarkan, damai, dan penuh toleransi. Jejak langkah 2 Ulama ini perlu terus dikembangkan ke seluruh Indonesia dan dunia. Bersama semangat itulah film ini dibuat diharapkan bisa menjadi kontribusi untuk kedamaian bangsa dan penguat NKRI,” pungkas Sukriyanto.

Film yang disutradarai oleh Sigit Ariansyah, dengan produser Andika Prabhangkara dan  Abdullah Aminudin Azip ini memiliki pemeran dari kader-kader terbaik dari Muhammadiyah dan juga Pondok Pesantren Tebuireng.

Hadir dalam konferensi pers tersebut, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini, Ketua Ponpes Tebuireng Sholahudin Wahid beserta istri, Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas, dan Sekretaris PP Muhammadiyah Agung Danarto. (sumber)

Kesederhanaan Haji Agus Salim, Menlu RI di Kabinet Hatta I

ilustrasi
MEDIA ISLAM -- Ketika salah satu anaknya wafat, Haji Agus Salim tak punya uang untuk membeli kain kafan. Salim membungkus jenazah anaknya dengan taplak meja dan kelambu. Ia menolak pemberian kain kafan baru.

Menemukan sosok macam Haji Agus Salim di zaman milenial atau Generasi Z serupa mencari jarum dalam tumpukan jerami. Berbeda dengan tokoh kebanyakan, “Untuk pejabat seperti ini kita patut menangis dan terus merasa kehilangan,” kata seorang facebooker yang hidup di zaman milenial.

Sekelumit gambaran kehidupan Menteri Luar Negeri RI Haji Agus Salim pun muncul ke permukaan. Dia adalah sosok yang pantas dirindukan selagi telinga lebih akrab mendengar kabar nama-nama tokoh yang disebut menelan uang korupsi.

Melangkah berkelok dari jalan utama, menyelusup gang-gang padat rumah di Jatinegara, di dalam gang sempit terdapat sebuah rumah mungil dengan satu ruang besar. Begitu pintu dibuka, terlihat koper-koper berkumpul di sudut rumah dan kasur-kasur digulung di sudut lainnya. Di sanalah tempat tidur Haji Agus Salim bersama istri dan anak-anaknya.

Dikontrakan yang lain, Haji Agus Salim, kira-kira enam bulan sekali mengubah letak meja kursi, lemari sampai tempat tidur rumahnya. Kadang-kadang kamar makan ditukarnya dengan kamar tidur.

Haji Agus Salim berpendapat, dengan berbuat demikian ia merasa mengubah lingkungan, yang manusia sewaktu-waktu perlukan tanpa pindah tempat atau rumah atau pergi istirahat di lain kota atau negeri.

Begitulah Mr Roem, murid dari Haji Agus Salim yang juga tokoh Masyumi, berkisah tentang kehidupan sang guru.

Anies Baswedan dalam “Agus Salim: Kesederhanaan, Keteladanan yang Menggerakkan” menyebutkan, Haji Agus Salim hidup sebagai menteri dengan pola ‘nomaden’ atau pindah kontrakan ke kontrakan lainnya. Dari satu gang ke gang lain.

Berkali-kali Haji Agus Salim pindah rumah bersama keluarganya. “Selama hidupnya dia selalu melarat dan miskin,” kata Profesor Willem “Wim” Schermerhon.

Wim sebagaimana ditulis Majalah Tempo dalam “Edisi Khusus Agus Salim” menjadi Ketua Delegasi Belanda dalam perundingan Linggarjati.

Dalam “Het dagboek van Schermerhon” dia mengungkapkan, “Pernah, pada salah satu kontrakan tersebut, toiletnya rusak. Setiap Agus Salim menyiram WC, air dari dalam meluap. Sang istri pun menangis sejadi-jadinya, karena baunya yang meluber dan air yang meleber.”

Zainatun Nahar istri Haji Agus Salim, tak kuat lagi menahan jijik sehingga ia muntah-muntah. Agus Salim akhirnya melarang istrinya membuang kakus di WC dan ia sendiri yang membuang kotoran istrinya menggunakan pispot.

Memimpin Itu Menderita

Kasman Singodimedjo, dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah dan Masyumi Ketua KNIP Pertama, dalam “Hidup Itu Berjuang” mengutip perkataan mentornya yang paling terkenal, yakni “Leiden is lijden,” kata Agus Salim. Terjemahan bebasnya berarti “memimpin itu menderita”.

Dan begitulah Agus Salim. Lihatlah bagaimana tak ada sumpah serapah yang terlontar meminta kenaikan jabatan, tunjangan rumah dinas, tunjangan kendaraan, tunjangan kebersihan WC, tunjangan dinas ke luar negeri untuk pelesiran, dan lainnya.

Bahkan saat salah satu anak Agus Salim wafat, ia tak punya uang untuk membeli kain kafan. Salim membungkus jenazah anaknya dengan taplak meja dan kelambu. Ia menolak pemberian kain kafan baru.

“Orang yang masih hidup lebih berhak memakai kain baru,” kata Agus Salim. “Untuk yang mati, cukuplah kain itu.”

Kustiniyati Mochtar dalam buku “Seratus Tahun Agus Salim” menulis, “Tak jarang mereka kekurangan uang belanja.”

Agus Salim memang berbeda dengan tokoh nasionalis lainnya. Dia adalah seorang diplomat ulung, menteri, dan pendiri bangsa yang mewakafkan dirinya untuk mengabdi kepada Allah, bahwa memimpin itu adalah ibadah.

Kesederhanaan luar biasa Haji Agus Salim terlihat ketika ia rela berjualan minyak tanah sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sekalipun saat itu sudah pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri dan menjadi perwakilan tetap Indonesia di PBB, tanpa rasa malu dia menjualnya dengan cara mengecer.

Bahkan, saat ada acara di Yoigyakarta, Agus Salim terpaksa membawa minyak tanah dan menjualnya di sana.

“Hasil penjualan minyak tanah itu,” kata Mr Roem, “Dipergunakan untuk menutupi ongkos perjalanan Jakarta-Yogyakarta.”

Haji Agus Salim adalah seorang tokoh yang memilih jalan becek dan sunyi. Ia lebih suka berjalan kaki dengan tongkatnya ketimbang mengejar gemerlap karpet merah dan mobil Land Cruiser, Alphard, dan gemerlap jantung kota.

Adakah tokoh semacam Haji Agus Salim yang lahir menjadi contoh di zaman milenial? Pertanyaan ini cukup dijawab di dalam hati.

Siapa pun rindu sosok seperti Haji Agus Salim. Bukan rindu tentang melaratnya, tapi tentang ruang kesederhanaan yang mengisi kekosongan nurani rakyat.

Haji Agus Salim lahir dengan nama Mashudul Haq, yang artinya adalah “pembela kebenaran”. Ia lahir tanggal 8 Oktober 1884 pada zaman Hindia Belanda di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, dan wafat di Jakarta, 4 November 1954 dalam usia 70 tahun.

Haji Agus Salim adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 27 Desember 1961 melalui Keppres Nomor 657 Tahun 1961. (Selanjutnya)

Agus Salim

Rabu, 24 Juli 2019

Ketika Presiden Jokowi Terlihat Mirip dengan Pangeran Diponegoro

ilustrasi
MEDIA ISLAM -- Sebagaimana beberapa pelukis lain, Sigit tetap memasukkan ciri khasnya dalam karyanya. Latar belakang lukisan yang menggambarkan suasana malam, dengan kemunculan bulan sabit dan kelelawar yang beterbangan, bisa bertafsir banyak.

“Intrepretasi terserah penonton. Saya tidak punya kekuatan pemaksa agar masyarakat memahami karya saya. Apapun karya kalau sudah dipamerkan, itu jadi milik orang lain juga. Bebas,” tandasnya.

Namun ia tetap memberi catatan, secara hakikat, proses karya dan gagasan yang ia visualisasikan, hanya sang seniman yang tahu persis. Ia menganalogikan situasinya dengan saat orang bertamu ke rumahnya.

“Tamu bisa tahu pintu masuk pagar, pintu masuk teras, masuk ruang tamu. Tapi kalau kamar, ya hanya saya yang tahu persis,” jelasnya. Ia pun menunjuk visualisasi tangan kanan Abdurohim yang jari telunjuknya mengarah ke atas.

“Tanda itu tafsir,” tukasnya. Tanda dan simbol itu bisa berarti banyak juga. Baginya posisi telunjuk yang mengarah ke atas itu umum sifatnya. Banyak figur sangat penting yang dicitrakan menggunakan tanda itu sebagai kode reliji.

Tapi jika dirunut sejarahnya, simbol-simbol itu sesungguhnya banyak yang dipengaruhi ketika paganism atau kebudayaan pagan mendominasi peradaban manusia di bumi ini. “Sebagian yang kita kenal sekarang itu simbol-simbol kuno,” kata Sigit.

Bagi pria kelahiran Ngawi ini, karya terkait Babad Diponegoro ini, sangat menarik. Ia menikmati proses karyanya sejak awal hingga lukisan itu dituntaskan Kamis (31/1/2019).

Kurator pameran, Dr Mikke Susanto kepada Tribunogja.com menjelaskan, satu-satunya data yang merekam sosok Diponegoro adalah sketsa AJ Bik (1830). Saat itu Diponegoro ditawan dan berada di Balai Kota Batavia.

Ada catatan, sebagaimana juga dituangkan dalam buku “Takdir” karya Peter Carey, Diponegoro saat itu dalam kondisi sakit parah karena malaria. Tubuhnya kurus, ringkih, wajahnya tirus, dan usianya sudah tua. (sumber)

ilustrasi

Inilah Buku Yusril yang Ditulis Selama 25 Tahun

ilustrasi
MEDIA ISLAM -- Pakar Hukum Tata Negara Yusril Ihza Mahendra meluncurkan buku yang dikerjakan dirinya selama kurun waktu 25 tahun.

Dalam jangka 25 tahun Yusril berhasil menerbitkan empat jilid buku.

"Tulisan-tulisan itu saya buat dalam rentang waktu yang cukup panjang, antara tahun 1990 sampai dengan tahun 2015," ujarnya saat acara Syukuran dan Peluncuran Ensklopedi  Pemikiran Yusril Ihza Mahendra di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu (6/2/2016).

Yusril yang bertepatan hari ini (6/2) memasuki usia ke-60 tahun mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekannya yang bersedia mengumpulkan tulisan-tulisanya.

Mantan Menteri Kehakiman itu juga berharap buku-bukunya dapat memberikan jalan solusi bagi persoalan bangsa.

"Apa yang saya tulis bukan pula sekedar memformulasikan masalah yang kita hadapi bersama, tetapi juga merupakan upaya intelektual untuk memberikan solusi bagaimana memecahkan persoalan-persoalan," ungkap Ketua Umum PBB. (sumber)

Sang Bintang Cemerlang

Perjalanan Hidup, Pemikiran dan Tindakan Politik
Membangun Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan
Pemikiran dan Perjuangan Mohammad Natsir
Modernisme dan Fundamentalisme dalam Politik Islam
Dinamika Tatanegara Indonesia

Kenang-kenangan di Masa Kecil Yusril Ihza Mahendra

Islam, Democracy and Human Rights in Contemporary Indonesia

Sebuah majalah

Pemerintah yang Amanah

Rusia Jajaki Investasi Industri Perkapalan di Batam

ilustrasi
Rusia tampaknya semakin serius untuk menjajaki investasi di Batam, Kepulauan Riau. Negara beruang merah tersebut akan bekerja sama dalam bidang industri galangan kapal.

Hal tersebut terungkap saat Wakil Deputi Perdagangan Kementerian Pengembangan Ekonomi Rusia untuk Indonesia, Chesnokov Alexander bertemu dengan Deputi III BP Batam, Dwianto Eko Winaryo di BP Batam, Senin (22/4) siang.

Dwi menyambut baik kunjungan tersebut. Kunjungan ini sebagai lanjutan dari kegiatan Diplomatic Trip yang dihadiri Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Ludmila Vorobieva, 4 April lalu.

"Dengan posisi strategis dan sarana prasarana yang memadai serta didukung 24 kawasan industri, Batam terbuka menyambut rekan-rekan investor dari Rusia untuk menjalin kerja sama," ungkapnya.

Dwi mengungkapkan bahwa Rusia antusias berinvestasi di Batam karena menjabarkan secara detail mengenai peluang bisnis dan investasi di Batam.

Sedangkan Chesnokov mengatakan bahwa Batam sangat ideal untuk pengembangan galangan kapal.

"Salah satu fokus pengembangan ekonomi yang digalakkan Rusia yakni industri pembuatan kapal. Dan Batam, sangat potensial untuk penjajakan kerja sama, mengingat prospek galangan kapal di Batam sangat tinggi untuk pengembangan desain dan teknologi di bidang terkait," jelasnya.

Chesnokov kemudian menjelaskan bahwa pihaknya akan mengatur kunjungan untuk mengadakan pertemuan kembali ke Indonesia, terutama di Batam. Tujuannya untuk membicarakan lebih lanjut mengenai investasi dan kesempatan berbisnis bersama pelaku industri khususnya industri pembuatan kapal yang akan dijadwalkan pada akhir Juli tahun ini. (sumber)