Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Mei 2020

Harga Emas Naik di Suriah

Harga emas melambung tinggi di Suriah akibat penurunan ekonomi global dan lokal.

Baru-baru ini Suriah juga menaikkan suku bunga acuan menjadi 5 dari 3 persen untuk mengembalikan simpanan warga di bank-bank luar negeri khususnya Lebanon, Dubai, Mesir dan Yordania.

Presiden Bashar Alasad juga mengganti menteri perdagangan dalam negeri dalam upaya untuk memperbaiki ekonomi.

Baca selanjutnya:

Jumat, 15 November 2019

Potensi Dana Wakaf Disebut Capai Rp3.000 Triliun

ilustrasi



MEDIA ISLAM -- Bank Indonesia (BI) memperkirakan potensi sumber dana dari wakaf mencapai Rp3.000 triliun pada tahun ini. Dana tersebut berasal dari wakaf tunai hingga bangunan yang berstatus wakaf namun belum digunakan. (baca)

"Potensinya sampai Rp3.000 triliun, ini termasuk tanah dan gedung yang belum produktif. Sementara cash (dana tunai) dan sekuritas wakaf itu sebagai dana operasional," ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo di sela acara Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2019 di JCC, Jakarta, pada Rabu (12/11).

Dari wakaf tunai, potensi dana terhitung dari dua sumber, yaitu dana wakaf tunai dan dari hasil pengelolaan surat utang syariah atau sukuk. Kebetulan, sambung Perry, saat ini muncul tren hasil pengelolaan sukuk yang kemudian dialirkan menjadi dana wakaf.

"Misalnya, Anda dapat imbal hasil 5-6 persen (per tahun). Nah, yang 6 persen itu Anda wakafkan," terangnya.

Selain dari dana wakaf, potensi juga muncul dari tanah dan bangunan yang berstatus wakaf. Perhitungan tanah dan bangunan wakaf itu merujuk pada nilai objek yang tidak produktif.

Bila tanah dan bangunan beralih menjadi objek produktif, maka nilai wakafnya bisa meningkat. Misalnya, tanah wakaf kemudian digunakan untuk mendirikan madrasah, rumah sakit, hingga bangunan komersial seperti pusat perbelanjaan sampai apartemen.

"Ini sebenarnya bisa menarik para investor wakaf untuk membeli apartemen. Bisa beli satu lantai, hasil sewanya yang diwakafkan boleh," tuturnya.

Lebih lanjut, Perry menilai pengelolaan dana wakaf yang lebih baik perlu dilakukan pada masa mendatang. Sebab, wakaf merupakan produk keuangan dan ekonomi syariah yang mampu menunjang sektor ini.

Bila ekonomi dan keuangan syariah tumbuh, hasilnya akan terasa juga ke perekonomian nasional. Terlebih, Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Kamis, 14 November 2019

Global Lesu, BI Berharap Ekonomi Syariah Jadi Penopang Pertumbuhan Indonesia

ilustrasi
MEDIA ISLAM -- Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo berpandangan ekonomi syariah bisa menjadi bantalan bagi perekonomian Indonesia di tengah perlambatan ekonomi global. Terlebih, Indonesia merupakan negara dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia. (baca)

Perry mengatakan Indonesia punya peluang mendorong pertumbuhan dari ekonomi syariah karena ada banyak saluran pertumbuhan ekonomi dari sektor tersebut. Misalnya, dari sektor keuangan melalui bank, perusahaan asuransi syariah, hingga berbagai produk keuangan syariah.

Selain itu, sumber lainnya juga berasal dari ekonomi riil yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, seperti industri produk halal, pondok pesantren, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), hingga pariwisata halal.

"Ini bisa menjadi daya dukung ekonomi dan keuangan syariah yang kemudian mendukung ekonomi nasional, termasuk untuk memitigasi dampak dari perekonomian global yang sedang turun," ucap Perry di sela Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2019 di JCC, Jakarta, pada Rabu (12/11).

Bahkan, menurutnya, potensi ekonomi dari sektor syariah sangat besar dan belum semuanya dirasakan oleh Indonesia. Pasalnya, data keterjangkauan sektor keuangan alias inklusi Indonesia baru sekitar 60 persen dari total penduduk di Tanah Air.

Sisanya, 40 persen lainnya justru belum menikmati produk dari sektor keuangan. Begitu pula dari sisi ekonomi riil, di mana masih banyak masyarakat yang belum benar-benar menggunakan produk halal dalam pemenuhan kebutuhannya.

"Di setiap tubuh muslimah, ada 32 items yang seharusnya tersertifikasi halal, ini potensi bagi UMKM dan segmen tersebut. Kami yakin pengembangan ekonomi syariah tidak hanya meningkatkan inklusi, tapi juga mendorong ekonomi nasional di tengah melambatnya ekonomi di dunia," terangnya.

Lebih lanjut, ia menyatakan ekonomi syariah bisa menjadi arus baru bagi perekonomian nasional ke depan. Syaratnya, Indonesia mampu mengembangkan berbagai instrumen produk keuangan, produk halal, kurikulum ekonomi syariah, riset dan edukasi hingga kampanye pola hidup halal.

Sebagai informasi, selama lima tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia terjebak di kisaran 5 persen. Pada kuartal III 2019 lalu, ekonomi cuma tumbuh 5,02 persen atau melambat dibanding periode yang sama tahun lalu, 5,17 persen.

Minggu, 28 Juli 2019

Di Milad MUI ke-44, Jusuf Kalla Singgung Peran Penting Pengusaha Muslim

ilustrasi
MEDIA ISLAM -- Wakil Presiden RI Jusuf Kalla mengimbau agar banyak pengusaha dari kalangan Muslim yang terus berkembang menjadi lebih baik. Menurutnya, berkembangnya pengusaha Muslim yang semakin mendorong pertumbuhan perekonomian Indonesia di masa mendatang dan khususnya ekonomi syariah.

“Penguasaan ekonomi bisa terjadi bila pengusaha-pengusaha Muslim maju dengan baik, kalau pengusaha kurang, maka ekonomi syariah tidak bisa jalan,” papar JK dalam acara Milad Majelis Ulama Indonesia (MUI) ke-44, Sabtu (27/07) di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta.

JK menilai, saat ini perekonomian syariah masih menghadapi banyak kendala. Dari banyak kendala itu, JK ingin MUI mendukung memajukan ekonomi syariah. Caranya, kata dia, dengan menerapkan kebijakan yang tidak mempersulit pemberian label halal dalam industri barang dan jasa.

“Khususnya produk makanan dan minuman, sehingga tidak perlu ada pertentangan selama memegang prinsip bahwa yang halal pasti syariah,” kata dia.

“Pandangan muamalahnya sederhana, selama tidak haram dia halal, selama dia halal maka dia syar’i. Jadi kita tidak perlu mempersulit, karena ini ekonomi syariah juga sebenarnya,” imbuhnya.

Dengan begitu, lanjut JK, MUI sebagai lembaga kepercayaan publik dalam memberikan label harap diharapkan mampu mendorong Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk mewujudkan cita-cita ekonomi yang adil.

JK mengatakan jika keadilan itu harus ada di dalam kemajuan ekonomi. Tanpa keadilan, maka kemajuan ekonomi justru menghasilkan ketimpangan. Untuk menambahkan nilai keadilan itulah, kata JK, perlunya umat bergerak lebih serius dalam bidang ekonomi.

“Apapun yang kita bicarakan tentang keadilan ekonomi, tapi bila kita tidak bergerak di bidang ini, maka keadilan tidak akan timbul,” tegasnya. (sumber)

Rabu, 24 Juli 2019

Rusia Jajaki Investasi Industri Perkapalan di Batam

ilustrasi
Rusia tampaknya semakin serius untuk menjajaki investasi di Batam, Kepulauan Riau. Negara beruang merah tersebut akan bekerja sama dalam bidang industri galangan kapal.

Hal tersebut terungkap saat Wakil Deputi Perdagangan Kementerian Pengembangan Ekonomi Rusia untuk Indonesia, Chesnokov Alexander bertemu dengan Deputi III BP Batam, Dwianto Eko Winaryo di BP Batam, Senin (22/4) siang.

Dwi menyambut baik kunjungan tersebut. Kunjungan ini sebagai lanjutan dari kegiatan Diplomatic Trip yang dihadiri Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Ludmila Vorobieva, 4 April lalu.

"Dengan posisi strategis dan sarana prasarana yang memadai serta didukung 24 kawasan industri, Batam terbuka menyambut rekan-rekan investor dari Rusia untuk menjalin kerja sama," ungkapnya.

Dwi mengungkapkan bahwa Rusia antusias berinvestasi di Batam karena menjabarkan secara detail mengenai peluang bisnis dan investasi di Batam.

Sedangkan Chesnokov mengatakan bahwa Batam sangat ideal untuk pengembangan galangan kapal.

"Salah satu fokus pengembangan ekonomi yang digalakkan Rusia yakni industri pembuatan kapal. Dan Batam, sangat potensial untuk penjajakan kerja sama, mengingat prospek galangan kapal di Batam sangat tinggi untuk pengembangan desain dan teknologi di bidang terkait," jelasnya.

Chesnokov kemudian menjelaskan bahwa pihaknya akan mengatur kunjungan untuk mengadakan pertemuan kembali ke Indonesia, terutama di Batam. Tujuannya untuk membicarakan lebih lanjut mengenai investasi dan kesempatan berbisnis bersama pelaku industri khususnya industri pembuatan kapal yang akan dijadwalkan pada akhir Juli tahun ini. (sumber)