Tampilkan postingan dengan label nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasional. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Desember 2025

Al Washliyah Bantu Korban Bencana Alam Siklon Senyar di Tapsel


Ketua Pengurus Daerah Al Washliyah Tapanuli Selatan, Dr H. Nurfin Sihotang, MA, Ph.D., baru-baru ini menyalurkan bantuan untuk korban bencana ekologi Siklon Senyar di Aceh, Sumut, dan Sambar di Tapanuli Selatan, sebagaimana diunggah di akun TikTok resminya. Aksi ini menjadi bukti kepedulian organisasi terhadap masyarakat terdampak bencana.

Bantuan ini diberikan langsung oleh pengurus daerah, menyasar keluarga yang kehilangan tempat tinggal dan harta benda akibat banjir dan angin kencang yang melanda wilayah tersebut. Dr Nurfin menekankan bahwa bantuan ini merupakan tanggung jawab sosial Al Washliyah sebagai ormas yang lahir dari semangat keagamaan dan kemanusiaan.

Beberapa bulan lalu, Al Washliyah juga terlibat dalam memperkuat pendidikan di Tapanuli Selatan. Hal ini terlihat dari proyek wakaf madrasah yang diterima organisasi di Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, beberapa waktu lalu. Lahan dan bangunan sekolah seluas 160 meter persegi kini dikelola untuk pendidikan anak-anak setempat.

Pihak pewakif, Ibrahim Saragih, S.Pd, menyerahkan tanah beserta bangunan madrasah agar dapat dikelola secara profesional oleh Al Washliyah. Surat ikrar hibah wakaf telah ditandatangani pada 3 Mei 2024, dan saat ini proses kenaziran masih berjalan.

Dr Nurfin menyatakan bahwa madrasah ini sangat tepat untuk mendukung pendidikan anak-anak di Kecamatan Sipirok. Selama ini, daerah tersebut belum memiliki sekolah setingkat SMP yang memadai, sehingga kehadiran madrasah akan menutup kekosongan tersebut.

Gedung madrasah tiga lokal saat ini masih dalam tahap penyelesaian. Ruang kelas belum sepenuhnya dibatasi dengan dinding, lantai belum dikeramik, dan fasilitas seperti kamar mandi serta ruang guru masih dalam pembangunan.

Al Washliyah berharap bantuan dari masyarakat dan pihak terkait dapat mempercepat penyelesaian madrasah. Kebutuhan anggaran saat ini diperkirakan sekitar Rp 200 juta untuk menyelesaikan seluruh fasilitas dasar dan penunjang pendidikan.

Selain membangun fisik madrasah, Al Washliyah Tapanuli Selatan juga fokus pada pengembangan organisasi melalui pendidikan, dakwah, dan sosial. Setiap tingkat kecamatan diharapkan memiliki fasilitas pendidikan dasar yang dikelola oleh Al Washliyah.

Organisasi ini telah berkiprah sejak 1930 di Medan, Sumatera Utara. Seiring waktu, Al Washliyah terus menata aset dan wakaf yang dipercayakan masyarakat untuk menunjang pendidikan dan kesejahteraan umat.

Pengurus daerah menekankan bahwa pengelolaan wakaf harus transparan dan profesional. Langkah ini bertujuan membangun kepercayaan masyarakat serta memaksimalkan manfaat bagi umat.

Aksi tanggap bencana oleh Al Washliyah menunjukkan bahwa organisasi tidak hanya fokus pada pendidikan, tetapi juga peduli terhadap kondisi sosial dan lingkungan sekitar. Bantuan darurat kepada korban siklon Senyar menjadi bukti nyata kepedulian ini.

Dr Nurfin menyebutkan bahwa peran organisasi dalam mitigasi bencana juga sangat penting. Al Washliyah berupaya mempersiapkan komunitas lokal agar lebih tangguh menghadapi bencana di masa mendatang.

Kegiatan kemanusiaan ini selaras dengan visi Al Washliyah untuk membangun masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera. Aksi ini juga mendorong partisipasi masyarakat dalam membantu sesama yang terdampak bencana.

Pengurus Al Washliyah berharap kehadiran madrasah dan kegiatan sosial lainnya dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan kehidupan masyarakat setempat. Pendidikan dianggap sebagai kunci pembangunan berkelanjutan di Tapanuli Selatan.

Selain itu, Al Washliyah juga menekankan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Program ini mencakup pengembangan UMKM, pelatihan keterampilan, dan dukungan bagi wirausaha lokal agar mereka mampu bangkit pasca-bencana.

Ketua PD Tapanuli Selatan menegaskan bahwa setiap program harus dijalankan secara transparan dan melibatkan masyarakat. Partisipasi aktif warga menjadi salah satu kunci keberhasilan proyek pendidikan dan bantuan sosial.

Al Washliyah juga mengelola bantuan secara berkelanjutan. Bantuan bencana tidak hanya disalurkan sekali, tetapi dipantau untuk memastikan pemulihan jangka panjang bagi masyarakat terdampak.

Organisasi ini juga bekerja sama dengan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan mitra strategis untuk memperkuat jaringan sosial. Kolaborasi ini diharapkan meningkatkan efektivitas bantuan dan pembangunan fasilitas pendidikan.

Pendekatan holistik yang diterapkan Al Washliyah, yakni menggabungkan pendidikan, dakwah, sosial, dan tanggap bencana, menjadikan organisasi ini berbeda dengan lembaga kemanusiaan lain.

Dengan berbagai program yang dijalankan, Al Washliyah berpotensi memberi dampak positif jangka panjang. Anak-anak mendapatkan pendidikan berkualitas, masyarakat terdampak bencana terbantu, dan pengelolaan wakaf lebih optimal.

Akhirnya, langkah konkret Al Washliyah Tapanuli Selatan melalui bantuan siklon Senyar dan pembangunan madrasah menunjukkan bahwa ormas ini mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Ke depan, organisasi diharapkan terus berkembang dan memperluas jangkauan kegiatan sosial, pendidikan, dan kemanusiaan.

Minggu, 13 April 2025

Riwayat Minangkabau di Tanah Batak dan Kedaulatan Aceh

SILINDUNG – Di balik lanskap perbukitan yang mengelilingi Danau Toba, tersembunyi warisan sejarah panjang tentang asal-usul masyarakat Batak, relasi budaya dengan Minangkabau, hingga jejak kedaulatan Kesultanan Aceh yang terlupakan. Narasi ini bukan hanya cerita rakyat semata, tapi juga tercermin dalam arsip sejarah, termasuk dalam sebuah peta kuno yang kini tersimpan di Turki.

Penduduk awal di kawasan Danau Toba memilih menetap di bagian timur danau karena kondisi alamnya yang mendukung. Ketika populasi meningkat, ekspansi terjadi ke Silindung, lalu menyebar ke utara Dairi dan selatan Angkola. Dalam perkembangan selanjutnya, pengaruh budaya Minangkabau mulai terasa seiring migrasi dan interaksi yang makin intens.

Legenda menyebutkan bahwa Sultan Minangkabau, keturunan Iskandar Agung, mengelilingi Pulau Sumatera dan menunjuk para pemimpin lokal termasuk di Tanah Batak. Sebuah petunjuk sakral berupa tanda hitam di bawah lidah konon diberikan sebagai penanda kepemimpinan sah. Hingga kini, kisah ini masih hidup dalam tradisi lisan masyarakat Batak.

Namun sejarah menunjukkan bahwa pengaruh eksternal atas wilayah Batak tidak hanya datang dari Minangkabau. Dalam sebuah peta kuno buatan tahun 1850 yang kini tersimpan di sebuah museum di Turki, tercatat bahwa wilayah selatan Danau Toba disebut secara jelas sebagai "Batak" dan menjadi bagian dari wilayah Kesultanan Aceh. Peta ini dikirim oleh pihak Aceh kepada Sultan Turki Utsmani sebagai bentuk laporan atas kondisi wilayah Islam di Nusantara.

Peta tersebut menggambarkan hubungan erat antara kerajaan-kerajaan Melayu dan Kekhilafahan Utsmani. Di sana, Pulau Sumatera digambarkan melintang lurus dengan banyak wilayah disebut sebagai ‘Bandar’, termasuk Bandar Asahan dan Bandar Palembang. Dalam peta itu, wilayah Batak bukan hanya disebut, tapi juga diposisikan secara strategis dalam konteks kekuasaan Islam regional.


Fakta ini memperkuat pandangan bahwa sebelum kolonialisme Belanda menancapkan kuku kekuasaannya, tanah Batak merupakan bagian dari kedaulatan sah Kesultanan Aceh. Wilayah itu diakui secara politik dan budaya sebagai bagian dari negeri Islam yang memiliki hubungan diplomatik dengan kekuasaan besar dunia Islam, yakni Turki Utsmani.

Dalam konteks ini, narasi Batak bukan hanya soal budaya dan mitos, tapi juga terkait sejarah geopolitik. Sanusi Pane, dalam pidatonya tahun 1926, menggambarkan bagaimana pemuda Batak mulai menyadari identitas politik mereka. Melalui Jong Bataks Bond (JBB), mereka memproklamasikan diri sebagai entitas yang berdiri sejajar dengan suku lain dalam pergerakan nasional.

Pane menyampaikan bahwa jiwa muda Batak dan Mandailing saat itu adalah ladang subur yang menunggu untuk ditanami benih-benih nasionalisme. Ia mengajak generasi muda menjadi penjaga gerbang tanah air, karena rakyat telah mulai menaruh harapan pada mereka. Ia menekankan bahwa kebudayaan Batak bukan tidak ada, melainkan sedang tertidur, menunggu untuk dibangkitkan.

Kesadaran ini merupakan bagian dari pergerakan yang lebih besar, saat bangsa Indonesia mulai menggugat kekuasaan kolonial dan membangun nasionalisme dari akar budaya. Para pemuda Batak menyadari bahwa mereka memiliki warisan sejarah dan kedaulatan yang sah, baik melalui narasi rakyat maupun catatan historis seperti peta Kesultanan Aceh tadi.

Munculnya JBB menjadi simbol pemisahan identitas dari dominasi Jong Sumatranen Bond yang banyak diisi pemuda Minangkabau. Hal ini memperlihatkan bagaimana dinamika antar-etnis di Nusantara tidak selalu harmonis, namun melalui dialog dan kesadaran bersama akhirnya ikut memperkuat fondasi nasionalisme Indonesia.

Dengan demikian, sejarah Batak bukanlah cerita pinggiran. Ia berdiri kokoh sebagai simpul penting dalam jalinan sejarah Nusantara, memiliki hubungan kuat dengan Aceh sebagai pusat Islam di barat Indonesia dan dengan Minangkabau sebagai pengusung sistem sosial dan budaya yang dinamis.


Kisah tentang Sultan Minangkabau dan tanda lidah hanyalah satu dari sekian banyak narasi yang membentuk identitas Batak. Tapi kini kita tahu bahwa dalam arsip resmi kerajaan Islam, wilayah Batak diakui sebagai bagian integral dari tatanan politik regional yang diakui dunia Islam.

Keberadaan nama “Batak” dalam peta resmi Kesultanan Aceh menunjukkan bahwa wilayah ini tidak pernah benar-benar kosong atau terisolasi, tetapi aktif dalam jaringan kekuasaan Islam, diplomasi, dan kebudayaan di masa lalu. Ini memberi legitimasi sejarah yang lebih kuat pada klaim identitas masyarakat Batak masa kini.

Saat kita berbicara tentang sejarah Indonesia, penting untuk melihat bagaimana identitas lokal seperti Batak, Aceh, dan Minang saling bertemu, bertukar, dan sesekali bersilang jalan. Di situlah letak kekuatan Indonesia sebagai bangsa—dibentuk oleh sejarah yang kaya, berlapis, dan saling terhubung.

Kini, saat sejarah mulai dibaca ulang dan dikontekstualisasikan kembali, fakta-fakta seperti peta dari Aceh untuk Turki ini menjadi pengingat bahwa wilayah Batak adalah bagian dari jejak besar Nusantara yang dulu pernah terkoneksi dengan dunia Islam global.

Dari legenda Sultan, suara Sanusi Pane, hingga arsip peta Kesultanan Aceh, narasi Batak bukan hanya tentang sebuah suku, tapi tentang bagaimana satu wilayah kecil di pegunungan bisa menjadi simpul penting dalam sejarah besar bangsa. Identitas Batak adalah warisan sejarah, budaya, dan politik yang layak diangkat dan dihargai.

Kamis, 03 April 2025

Merajut Simpati di Hari Kemenangan: Perbandingan Gaya Prabowo dan Jokowi dalam Memikat Hati Umat Islam di Momen Lebaran

Jakarta – Momen Hari Raya Idulfitri, sebuah perayaan sakral bagi umat Islam di Indonesia, selalu menjadi panggung penting bagi para pemimpin bangsa untuk menunjukkan kedekatan dan perhatian mereka kepada masyarakat, khususnya kepada pemeluk agama Islam. Dalam konteks politik Indonesia, dua tokoh sentral yang kerap menjadi sorotan adalah Presiden Joko Widodo dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Keduanya memiliki gaya kepemimpinan yang khas dan strategi tersendiri dalam merajut simpati umat Islam, terutama di hari yang penuh berkah ini.

Presiden Joko Widodo, dengan gaya kepemimpinan yang cenderung merakyat dan fokus pada pembangunan infrastruktur, seringkali memanfaatkan momen Lebaran untuk mempererat silaturahmi dengan masyarakat luas. Tradisi open house di Istana Negara menjadi salah satu ciri khas kepemimpinannya, di mana masyarakat dari berbagai kalangan dapat bertemu langsung dan berinteraksi dengan kepala negara. Langkah ini dinilai efektif dalam menciptakan citra pemimpin yang dekat dengan rakyat dan inklusif.

Selain itu, Jokowi juga dikenal aktif dalam kegiatan-kegiatan keagamaan, meskipun tidak selalu secara eksplisit menonjolkan simbol-simbol agama. Kehadirannya dalam acara-acara keagamaan, seperti peresmian masjid atau pemberian bantuan kepada masyarakat kurang mampu menjelang Lebaran, menunjukkan komitmennya terhadap kesejahteraan umat Islam. Fokusnya pada pembangunan ekonomi dan pemerataan pembangunan juga dianggap sebagai bentuk perhatian tidak langsung namun signifikan terhadap peningkatan kualitas hidup umat Islam di berbagai daerah.

Di sisi lain, Prabowo Subianto, yang memiliki latar belakang militer yang kuat, cenderung menampilkan gaya kepemimpinan yang lebih tegas dan nasionalis. Meski demikian, dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah menjadi bagian dari pemerintahan Jokowi, Prabowo menunjukkan pendekatan yang lebih inklusif dan terbuka terhadap berbagai kelompok masyarakat, termasuk umat Islam.

Momen Lebaran menjadi kesempatan bagi Prabowo untuk menunjukkan sisi humanisnya. Melalui berbagai kegiatan sosial dan kunjungan silaturahmi, Prabowo berusaha membangun citra sebagai pemimpin yang peduli dan dekat dengan masyarakat. Pesan-pesan yang disampaikan Prabowo seringkali menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa, nilai-nilai yang juga sangat dijunjung tinggi dalam ajaran Islam.

Perbedaan gaya kepemimpinan antara Jokowi dan Prabowo tercermin dalam cara mereka berinteraksi dengan tokoh-tokoh agama dan organisasi Islam. Jokowi cenderung membangun hubungan yang harmonis dengan berbagai elemen umat Islam, termasuk organisasi-organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Pendekatannya lebih bersifat dialog dan kerjasama dalam berbagai isu kebangsaan.

Sementara itu, Prabowo, dengan latar belakangnya, mungkin memiliki pendekatan yang berbeda dalam membangun relasi dengan tokoh-tokoh agama. Namun, dalam beberapa kesempatan, Prabowo juga menunjukkan apresiasinya terhadap peran ulama dan tokoh agama dalam menjaga moralitas dan persatuan bangsa.

Dalam konteks momen Lebaran, kedua tokoh ini memiliki cara masing-masing dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan dan kebangsaan. Jokowi seringkali menekankan pentingnya toleransi, persaudaraan, dan semangat gotong royong, nilai-nilai universal yang relevan dengan semangat Idulfitri. Prabowo, di sisi lain, mungkin lebih menyoroti pentingnya ketahanan nasional dan semangat patriotisme, yang juga dapat dihubungkan dengan nilai-nilai keagamaan tentang cinta tanah air.

Penggunaan media sosial juga menjadi salah satu alat penting bagi keduanya dalam menjangkau masyarakat luas, termasuk umat Islam. Jokowi dikenal aktif menggunakan media sosial untuk menyampaikan ucapan selamat Lebaran dan membagikan momen-momen kebersamaannya dengan keluarga atau masyarakat. Prabowo juga memanfaatkan platform digital untuk menyampaikan pesan-pesan serupa, seringkali dengan gaya yang lebih lugas dan langsung.
Penting untuk dicatat bahwa efektivitas gaya kepemimpinan masing-masing dalam menggaet hati umat Islam dapat bervariasi tergantung pada preferensi dan pandangan individu. Sebagian masyarakat mungkin lebih tertarik dengan gaya Jokowi yang merakyat dan fokus pada pembangunan, sementara yang lain mungkin lebih mengapresiasi ketegasan dan nasionalisme yang ditunjukkan Prabowo.

Momen Lebaran, dengan segala tradisi dan nilai-nilai luhurnya, menjadi ujian tersendiri bagi para pemimpin bangsa dalam menunjukkan kualitas kepemimpinan mereka. Bagaimana mereka berinteraksi dengan masyarakat, bagaimana mereka menyampaikan pesan-pesan yang relevan dengan semangat Idulfitri, dan bagaimana mereka menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan umat Islam, semuanya menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan dan dukungan.

Pada akhirnya, baik Jokowi maupun Prabowo memiliki kontribusi dan pendekatan masing-masing dalam merajut hubungan dengan umat Islam di Indonesia. Momen Lebaran menjadi salah satu indikator bagaimana gaya kepemimpinan mereka diimplementasikan dalam konteks yang sarat dengan nilai-nilai keagamaan dan sosial. Masyarakat akan terus mengamati dan mengevaluasi, siapa yang mampu lebih efektif dalam memenangkan hati umat Islam, tidak hanya di hari kemenangan, tetapi juga dalam kepemimpinan sehari-hari.

Perbandingan gaya ini tidak dimaksudkan untuk menilai siapa yang lebih baik, tetapi lebih kepada pemahaman tentang keragaman pendekatan dalam membangun hubungan dengan umat Islam. Keduanya memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing, dan efektivitasnya sangat bergantung pada bagaimana pesan dan tindakan mereka diterima oleh masyarakat.

Dalam dinamika politik Indonesia yang kompleks, kemampuan seorang pemimpin untuk memahami dan merespons aspirasi umat Islam adalah faktor penting. Momen Lebaran menjadi pengingat akan pentingnya nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dan bagaimana para pemimpin dapat merangkul nilai-nilai tersebut untuk memperkuat persatuan dan kemajuan bangsa.

Pada akhirnya, yang terpenting adalah bagaimana para pemimpin, dengan gaya kepemimpinan masing-masing, mampu memberikan kontribusi positif bagi kemajuan bangsa dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia, termasuk umat Islam, serta bagaimana mereka mampu menjadikan momen sakral seperti Lebaran sebagai jembatan untuk mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan.

Dibuat oleh AI

Senin, 14 November 2022

AS Dukung Indonesia Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Dunia

Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan Amerika Serikat (AS) mendukung Indonesia menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia menjelang perhelatan KTT G20 di Bali.

"Presiden AS Joe Biden berkomitmen mendukung perbaikan dan pengembangan ekonomi Indonesia sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dunia," kata Erick dalam keterangannya di Jakarta, Senin.


Erick mengatakan keseriusan pemerintah Indonesia dalam melakukan akselerasi transisi energi menjadi perhatian dunia, tak terkecuali dari AS. Biden sendiri mendukung penuh langkah Indonesia dalam melakukan transisi energi terbarukan.

Menteri BUMN Erick Thohir mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Senin (14/11). Erick menyampaikan pertemuan ini berlangsung menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang akan dimulai pada Selasa (15/11).

Selasa, 20 September 2022

Tarekat Qadiriyah Naqshabandiyah Gelar Manaqib dan Doa Bersama untuk HM Soeharto

Manaqib dan Haul Wali Ke.X Tanah Jawa H.Muhammad Soeharto bersama Guru Agung Hadrotus Syeikh Abah Aos Ra Qs
Masjid Agung At Tin (Taman Mini Indonesia Indah) Minggu, 18 September 2022
Mulai Pukul.07.19 WIB

Sabtu, 26 Desember 2020

Soekarno: Tidak Percaya Bahwa Mirza Ghulam Ahmad Adalah Nabi

BEBERAPA hari yang lalu saya mendapat surat “vlieg-post” (kilat pos) Kupang, dari Kupang ke Endeh dengan kapal biasa dari seorang kawan di Bandung, bahwa ‘Pemandangan’ telah memuat satu entrefilet bahwa saya telah mendirikan cabang Ahamdiyah dan menjadi propagandis Ahmadiyah bagian Celebes. Walaupun ‘Pemandangan‘ yang memuat kabar itu belum tiba di tangan saya, dus belum saya baca sendiri – kapal dari Jawa tiga hari lagi baru datang oleh karena orang yang mengasih kabar kepada saya itu saya percayai, segeralah saya minta kepadanya membantah kabar dari tuan-tuan punya reporter itu.

Saya bukan anggota Ahmadiyah. Jadi mustahil saya mendirikan cabang Ahmadiyah atau menjadi propagandisnya. Apalagi “buat bagian Celebes”! Sedang pelesir ke sebuah pulau yang jauhnya hanya beberapa mil saja dari Endeh, saya tidak boleh! Di Endeh memang saya lebih memperhatikan urusan agama daripada dulu. Di sampingnya saya punya studie sociale wetenschappen (studi ilmu2 sosial), rajin jugalah saya membaca buku-buku agama . Tapi saya punya ke-Islam-an tidaklah terikat oleh sesuatu golongan. Dari Persatuan Islam Bandung saya banyak mendapat penerangan; terutama persoon-nya tuan A. Hassan sangat membantu penerangan bagi saya itu. kepada tuan Hassan dan Persatuan Islam saya di sini mengucapkan saya punya terima kasih, beribu-ribu terima kasih.

Kepada Ahmadiyah-pun saya wajib berterima kasih. Saya tidak percaya bahwa Mirza Gulam Ahmad seorang nabi dan belum percaya pula bahwa ia seorang mujaddid. Tapi ada buku-buku keluaran Ahmadiyah yang saya dapat banyak faedah daripadanya: “Mohammad the Prophet” dari Mohammad Ali, “Inleiding tot the Studie van den Heiligen Qoer’an” juga dari Mohammad Ali, “Het Evalingelie Van den Daad” dari Khawadja Kamaludin, “De bronnen van het Christendom“, dari idem dan “Islamic Review” yang banyak membuat artikel yang bagus.

Dan tafsir Qur’an buatan Muhammad Ali, walaupun ada beberapa pasal yang tidak saya setujui, adalah banyak juga menolong kepada penerangan bagi saya. Memang umumnya saya mempelajari agama Islam itu tidak dari suatu sumber saja, banyak sumber yang saya datangi dan saya minum airnya.

Buku-buku Muhammadiyah, buku-buku Persatuan Islam, buku-buku Penyiaran Islam, buku-buku Ahmadiyah, buku-buku dan India dan Mesir, dari Inggris dan Jerman, tafsit-tafsir bahasa Belanda dan Inggris, buku-buku dari lawan-lawan Islam (Snouck Hurgronye, Arcken, Dozy Hartmann dan lain sebagainya), buku-buku dari orang-orang bukan Islam tapi yang simpati dengan Islam, semua itu menjadi material bagi saya. Ada beberapa ratus buku yang saya pelajari itu. Inilah satu-satunya jalan yang memuaskan kepada saya di dalam saya punya studi itu.

Dan mengenai Ahmadiyah, walaupun beberapa pasal di dalam mereka punya visi saya tolak dengan yakin, toh pada umumnya ada mereka punya “features” yang saya setujui: mereka punya rasionalisme, mereka punya kelebaran penglihatan (broadmindedness), mereka punya modernisme, mereka punya hati-hati terhadap kepada hadits, mereka punya streven (tujuan) Qur’an saja dulu, mereka punya systematische aannemelijk making van den Islam (terjemahan bebas: sistem rujukan logis Islam). Buku-buku seperti “Het Evalingelie aan den Daad” tidak ayal saya menyebut brilian, berfaedah sekali bagi semua orang Islam.

Maka oleh karena itulah, walaupun ada beberapa pasal dari Ahmadiyah tidak saya setujui dan malahan saya tolak, misalnya mereka punya “pengeramatan” kepada Mirza Gulam Ahmad, dan mereka punya kecintaan kepada imperialisme Inggris, toh saya merasa waiib berterima kasih atas faedah-faedah dan penerangan-penerangan yang telah saya dapatkan dari mereka punya tulisan-tulisan yang rasional, modern, broadmindedness dan logis itu.

Bagian-bagian fiqih terutama sekali, Persatuan Islam-lah yang menjadi saya punya penuntun. Memang persatuan Islam adalah sangat sekali tinggi duduknya di dalam saya punya simpati. Kalau umpamanya saya mesti menyebutkan cacat “Persatuan Islam”,  maka saya akan katakan: “Persatuan Islam” itu ada mempunyai neiging (kecenderungan) kepada sektarisme. Alangkah baiknya kalau “Persatuan Islam” bisa mengenyahkan neiging yang kurang baik ini, kalau memang benar ada neiging itu.

Islam adalah satu Agama yang luas yang menuju kepada persatuan manusia. Agama Islam hanyalah bisa kita pelajari sedalam-dalamnya, kalau kita bisa membukakan semua pintu-pintu budi akal kita bagi semua pikiran-pikiran yang berhubungan kepadanya dan yang harus kita saring dengan saringan Qur’an dan Sunnah Nabi.

Jikalau benar-benar kita saring kita punya keagamaan itu dengan saringan pusaka ini dan tidak dengan saringan lain, walaupun dari Imam manapun juga, maka dapatlah kita satu Islam yang tidak berkotoran bid’ah, yang tak bersifat takhayul sedikit jua pun, yang tiada “keramat-keramatan”, yang tiada kolot dan mesum, yang bukan “hadramautisme”, yang selamanya “up to date”, yang rasional, yang gampang maha gampang, yang cinta kemajuan dan kecerdasan, yang luas dan “broadminded”, yang hidup, yang levend (hidup).

Inilah tuan-tuan redaktur yang terhormat, saya punya keterangan yang singkat berhubung dengan khabar kurang benar dari tuan punya reporter, bahwa saya sudah mendirikan cabang Ahmadiyah atau menjadi propagandis Ahmadiyah. Moga-moga cukuplah keterangan yang singkat ini buat memberitahu kepada siapa yang belum tahu, bahwa saya bukan seorang “Ahmadiyah”.  Tapi hanya seorang pelajar agama yang sudah nyata bukan kolot dan bukan pun seorang “pengikut yang taqlid saja”.

Terima kasih, tuan-tuan Redaktur.

Soekarno
Endeh, 25 November 1936

[Sumber: “Di Bawah Bendera Revolusi, Jilid II, hlm. 345-347]

Kamis, 22 Oktober 2020

Kebetulan Menjadi Santri

Kebetulan Menjadi Santri

Ketika ditanya pernah mondok di pesantren  mana, Saya sering kebingungan menjawabnya. Secara formal saya bukan santri yang  pergi jauh dari rumah belajar dan menetap secara khusus di suatu pesantren.

Qodarullah karena di samping rumah ada pesantren milik kerabat maka saya terbawa belajar sehingga menjadi santri 'kalong'. Sebutan santri yang tidak menetap dan berasal dari sekitar pesantren. Umumnya datang mengaji pada waktu sore dan malam. Sedangkan pagi hari mereka belajar di sekolah

Pesantren tempat saya belajar bukanlah pesantren yang sekarang ini lazim ditemukan. Bangunan permanen, megah, tanahnya luas dan jumlah santri ribuan. Bangunan pesantren tersebut bekas rumah yang disulap menjadi pesantren. Karena itu, bangunannya pun tidak luas. Jumlah santri pun hanya puluhan yang berasal dari sekitar désa sekitar dan beberapa dari luar Bogor. Model pesantren seperti ini mudah ditemukan di daérah Bogor pada waktu itu.

Meski santri kalong, Saya mengikuti keseluruhan kegiatan layaknya santri "asli/mukim" hingga tak terasa kurang lebih delapan tahun belajar. Dua tahun belajar membaca Alquran dan enam tahun belajar kitab kuning.

Saya tidak tahu dan tidak pernah merasakan bagaimana belajar di pesantren besar. Namun, belakangan saya mengetahui ternyata apa yang saya pelajari ternyata tidak jauh dengan di pesantren besar dan masyhur untuk tingkat dasar. Jadi ketika ada yang menceritakan pelajaran pesantren, saya masih bisa mengikuti atau minimal nyambung. 

Kenapa demikian, karena guru-guru saya pernah belajar di pesantren mashur. Pimpinan pesantren, Allohu yarham KH. syihabuddin alumni pesantren Kananga, salah satu pesantren legendaris di Banten. Paman saya Abah Bibib pernah belajar di pesantren Kyai terkenal di Bogor dan Bandung serta Sastra Arab IAIN Jakarta dan Kyai Aneng Anwar, alumni pesantren dan salah satu santri angkatan awal yangbrajin menelaah kitab dan banyak berinteraksi dengan para Kyai.

Selepas lulus sekolah dan melanjutkan belajar di UNS Solo tanpa disengaja saya terdampar di Pesantren Mahasiswa Binaul Fikri dengan guru utama Ustad Fakhruddin, Lc alumni pesantren Maskumambang, Gresik dan LIPIA Jakarta. Pesantren itu sebenarnya bukanlah pesantren tapi lebih tepat kos-kosan atau rumah sewa yang dikelola oleh para senior yang kuliah di UNS dengan diselipi program pembinaan. Pengajiannya pun hanya dilakukan setelah subuh saja. Lebih menekankan agar mahasiswa yang kuliah pergaulannya lebih terjaga dan terbina.

Setelah setahun kemudian, pesantren mengalami perubahan manajemen dan berganti nama menjadi Al Hilal dengan guru utama Ustad Ahmad Yani. Beliau seorang Hafidz Al Qur'an alumni Pesantren Al Amin, Madura. Meski hanya berjalan dua sampai tiga tahun, Saya pernah merasakan belajar Tahsin Alquran dan sedikit menghafal. 

Di akhir semester perkuliahan sambil mengerjakan tugas akhir di semester 9 dan 10, saya mendaftarkan diri belajar bahasa Arab gratis di Ma'had Abu Bakr As-siddiq Universitas Muhammad Surakarta. Lembaga ini bagian dari  yayasan AMCF Uni Emirat Arab  yang memiliki cabang di berbagai tempat di Indonesia.

Di lembaga ini saya belajar dari para guru alumni LIPIA dan Timur Tengah. Masih ingat ketika belajar dengan Ustad Tamim Aziz Muhammad Saleh, Lc, Ustad Jasiman Solo, Lc, Ust. Soheh Hasan, Lc, Ust. Fauzan, Lc, Ust. Zainuddin, Ust. Yunan Abduh, Lc,  Ust Soleh Fauzan. Masih ingat juga Ust Ilyas, Lc. alumni Suriah yang suka bercerita lucu tentang Nasrudin Joha, Tokoh 'Kabayan' dari  timur Tengah serta Ustad yang berwibawa Dr. Saiful Islam alumni Deoban India.

Masih ingat juga kebingungan saya ketika dua orang guru dari Negara Sudan mengajar, Ustad Dhau Badalal Karim dan Ustad Abdul Aziz. keduanya mengajar dengan  bahasa  Arab dialek Sudan. Ibarat belajar bahasa Inggris oleh orang Inggris asli.

Sebenarnya masih ada namun saya agak lupa namanya karena tidak mengajar langsung. 
Di tempat itu saya belajar lebih dari satu tahun dan tidak sempat tamat karena orang tua meminta untuk segera pulang kampung karena  sudah hampir enam tahun saya tinggal di kota Solo.

Ketika mendapatkan kesempatan kuliah S2 di University of Mysore India tahun 2011, tak sengaja Saya terdampar di asrama mahasiswa muslim yang bernama The New Muslim Hostel selama dua tahun.  Secara fisik, asrama ini mirip pesantren besar di Indonésia. Ditengah-tengahnya terdapat mesjid, lapangan olah raga, ruang makan dan perpustakaan. Pengelola asrama adalah yayasan yang dimiliki komunitas muslim. Pimpinan asrama atau Warden adalah seorang pensiunan Professor di universitas tempat saya kuliah.

Asrama tidak memiliki program pendidikan keagamaan secara resmi. Namun demikian, pengelola menunjuk imam mesjid yang kadang bisa menjadi guru bagi para mahasiswa. Terdapat dua Imam yang bertugas waktu itu. Keduanya mahasiswa Pascasarjana di tempat saya kuliah. Kampusnya pun berdekatan. Saya di Jurusan Commerce, mereka di jurusan bahasa Urdu. Keduanya alumi perguruan Islam ternama, India yaitu  Deoban. Keduanya hafal Al-Qur'an sehingga setiap Ramadhan secara bergiliran menjadi imam Tarawih di mesjid asrama hingga khatam dalam satu bulan.

Penghuni asrama dan jamaah mesjid dari luar memanggil mereka dengan sebutan Maulana. sebutan kehormatan orang India terhadap orang yang memiliki pemahaman agama yang luas. 

Dua Imam yang belum lama lulus dari Deoban ini, Dr Fuzail Akhtar dan Dr Tauseef Khan belum lancar berbahasa Inggris pada waktu itu. Karena itu, mahasiswa asing sering kesulitan berkomunikasi dengan mereka. Akhirnya saya menggunakan bahasa Arab ketika bersama mereka terutama ketika berdiskusi soal ke Islaman. Alhamdulillah karena pernah jadi santri kalong, masih nyambung ketika berdiskusi.

Setelah empat tahun lulus dari India, saya pun tak diduga menjadi santri kembali. Tahun 2017 saya mengikuti seleksi Pendidikan Kader Ulama MUI Kabupaten Bogor. Selama enam bulan Alhamdulillah bisa berinteraksi dengan para santri sungguhan yang berasal dari pesantren-pesantren terkenal di berbagai tempat. Guru-guru yang mengajar pun banyak kyai atau tokoh yang terkenal sehingga menambah wawasan pemikiran dan pergaulan saya.

Sejak dua bulan ini saya menjadi santri online. Saya belajar memperbaiki bacaan Alquran di sebuah lembaga pendidian Alquran. Awalnya tidak berminat namun karena dorongan terus menerus dari istri akhirnya saya mau bergabung. Pendaftarannya pun istri saya yang mengurus. Saya hanya duduk manis belajar saja.

Semoga Allah memberikan ganjaran yang berlipat dan keberkahan ilmu kepada para guru baik nama-namanya yang disebut ataupun yang tidak. Khususnya yang telah Allah panggil lebih awal. Amiin

Selamat Hari santri,
22 Oktober 2020

Senin, 07 September 2020

Ini Akibat Pilkada Calon Tunggal pada Sistem Politik Daerah

PILKADA DENGAN CALON TUNGGAL ;

1. Akan melemahkan Pengawasan terhadap     
    Kinerja Pemerintah ( Eksekutif ),
    Sebab tidak adanya Partai Oposisi.

2. Lambat laun akan melemahkan fungsi DPRD
    sebagai Legislator.

3. Akan melahirkan Pemimpin yang Arogan dan
    Semena - mena.

4. Menciptakan Apatisme Rakyat dalam meng
    gunakan hak politik alias GOLPUT.

5. Terdegradasinya Education politic.

6. Hilangnya kepercayaan konstutien politik
    Terhadap Partai.

Pilkada 9 Des 2020 di ikuti sekitar 270 Daerah
dan diperkirakan 34 Daerah dengan Calon Tunggal adalah jumlah yang sangat banyak yang akan mengasumsikan betapa minimnya SDM Indonesia, dan juga tampilan Demokrasi yang sesunguhnya kurang partisipatif.

Kata Pemilihan dalam Pemilu ataupun Pilkada memberikan arti bahwa sesungguhnya ada Subyek yang harus menjadi Pilihan. Pilihan yg dimaknai adalah sesuatu yang lebih dari satu sehingga membuat pemilih dapat menentukan pilihannya, namun BUKAN KOTAK KOSONG.

Memilih Kotak Kosong sesungguhnya bukan tampilan Demokrasi apalagi sampai saat ini belum adanya Regulasi sebagai dasar hukum yg secara spesifik mengatur Kotak Kosong contoh kecil Timses dan Tim Kampanye serta Saksi di TPS, PPD dan juga di KPUD untuk mengawal Kotak Kosong.

Namun Realitas Demokrasi Politik kekinian mengarahkan kita untuk MENCOBLOS KOTAK KOSONG tentunya bagi mereka yang memandang Kotak Kosong adalah SOLUSIF.

Spesifikasi Pilkada 9 Des 2020 akan dilaksanakan di tengah - tengah Pandemi Covid-19 sehingga dikwatirkan akan meningkat jumlah penderita serta korban akibat Covid-19 yang signifikan. Euforia Pilkada membuat orang terlena dan lupa akan protokoler Kesehatan sebagaimana sama2 kita saksikan baru pada tahapan Deklarasi dan Pendaftaran " JAGA JARAK dan MASKER sudah terabaikan belum lagi pada masa2 Kampanye dll. ( Perpu No.2 Tahun 2020 pasal 201A ayat 3 ).

Untuk itu kami memberikan masukan kepada pihak pelaksana dan pengawas Pilkada Serentak 2020 AGAR DAPAT MEMPERTIMBANGKAN KEMBALI PELAKSANAAN PILKADA 9 Desember 2020. 
Apalagi Desember penuh dengan Ibadah Natalan.

Demikian sekilas pandangan bukan untuk diperdebatkan tapi di Diskusikan.

By. Sekretaris Majelis Muslim Papua 
       Kota Sorong.

       AHMAD LODJI

Rabu, 17 Juni 2020

Ajaran Sesat Millah Ibrahim di Indonesia dan Pemahaman Teroris Saudi Juhayman Al Otaibi


Dulu pernah menjadi headline soal ajaran sesat bernama 'Millah Ibrahim'.

Ajaran ini diduga diperkenalkan oleh seorang pendeta kepada beberapa mantan narapidana dan menjadi pengurusnya.



Ternyata, di Arab Saudi juga terdapat pemahaman serupa yang menjadi 'ideologi' Juhayman Al Otaibi seorang teroris yang pernah mengepung Kabah.

Rabu, 10 Juni 2020

Disinformasi dan Hoaks: Foto Anies Baswedan dengan Pimpinan ISIS Yusuf al-Qaradawi

Penjelasan:

Beredar kembali di media sosial Foto Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bersama politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hidayat Nur Wahid, serta ulama asal Mesir yang berkewarganegaraan Qatar, Yusuf al-Qaradawi. Dalam foto itu, terdapat tulisan yang menyebut Yusuf al-Qaradawi sebagai pimpinan Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS.

Faktanya setelah di telusuri cekfakta.tempo.co foto tersebut telah beredar sejak tahun 2017, dan belum ada bukti yang mendukung tentang pernyataan bahwa Yusuf al-Qaradawi berafiliasi dengan ISIS bahkan Yusuf al-Qaradawi pernah mengecam deklarasi khilafah yang digaungkan pemimpin ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi pada tahun 2014. Yusuf al-Qaradawi aktif di organisasi ikhwanul muslimin yang didirikan oleh Hassan Al-Banna pada usia 23 tahun saat  menempuh studi di Universitas Al-Azhar, Kairo. Jadi foto ulama asal mesir yang berkewarganegaraan Qatar bersama Anies Baswedan dan Hidayat Nur Wahid bukan pimpinan ISIS, melainkan tokoh Ikhwanul Muslimin.

KATEGORI: DISINFORMASI

Sumber:



Senin, 04 Mei 2020

Hindari Stigma dalam Penanganan Covid-19


Akhir-akhir ini berita mengenai perlakuan tidak patut terhadap orang yang terdampak COVID-19 mulai sering terdengar. Mari kita sama-sama percaya bahwa pada dasarnya semua punya niat baik, tapi kawan.... niat baik saja tidak cukup, kita juga perlu tahu cara yang benar. 

Niat baik bisa berubah jadi malapetaka jika diterapkan dengan cara yang tidak tepat. Sikap penolakan yang mulai banyak terjadi pada dasarnya bertujuan ingin melindungi sesama, tapi sayangnya hal ini justru berpotensi menimbulkan masalah yang lebih besar lagi.

Yuk, coba pahami perasaan kita dulu kalau kita memang takut tapi setidaknya kita merenung sejenak sebelum akhirnya mengambil keputusan. Benarkah sikap penolakan dan stigma yang terus ditanam akan memberikan keuntungan yang berkepanjangan? Jangan-jangan itu hanya ilusi, kawan. Ada cara yang lebih baik dan juga benar.

Yuk sama-sama belajar dan pahami, kita punya pilihan untuk menghentikan rantai ketakutan ini, kita punya daya untuk mengambil peran dan membuat perubahan.

Ada 3 seri lho, tunggu dan simak ya.

 #LAWANCOVID19
#DIRUMAHAJA
#COVIDBUKANAIB

#stopstigma #stigma #discrimination #mentalhealth #coronavirus #COVID-19 #pandemic #indonesia #kesehatan #flu #berita #WHO #health #socialdistancing #fear #masker #handsanitizer #corona #stayathome #quarantine #PSBB #karantina #mudik #lebaran

Credit to : @pkc.cipayung  @ Puskesmas Kecamatan Cipayung

Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2901157410120542&id=2117910551778569

Minggu, 05 April 2020

Covid-19, PP Pemuda Bulan Bintang Gelar Baksos



Dalam rangka Bakti sosial Peduli masyarakat melawan Covid-19, Pimpinan Pusat Pemuda Bulan Bintang Diah Bardiah selaku Sekjen beserta jajaran pengurus lainnya menuturkan bahwa Bakti Sosial kali ini bekerjasama dengan DPP KNPI dan Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak DPP PBB, pada Sabtu (04/20) di Jl. Kayu Mas, Pulogadung, Jakarta Timur.

"Setelah aksi-aksi Sosial Pimpinan Wilayah Provinsi (PW) dan Pimpinan Cabang (PC) kabupaten/kota Pemuda Bulan Bintang di seluruh tanah air, hari ini kami menyalurkan bantuan dan amanah yang telah dititipkan kepada kami brsma KNPI berupa nasi box, hand sanitizer dan masker, yang memang kebetulan salah satu Program Pemuda Bulan Bintang juga adalah siaga bencana berupa bantuan kepada masyarakat untuk pencegahan penyebaran virus covid-19 dalam bentuk hand sanitizer dan masker," ujar Diah.

Menurutnya, terkait bencana virus corona ini Pemuda Bulan Bintang Bergerak sebar hand sanitizer dan 1 juta masker yang dibagikan secara langsung dan tidak langsung (online) yang selain akan disalurkan melalui masyarakat langsung juga akan disebarkan melalui Perwakilan di daerah PW dan PC  kabupaten kota yang akan melakukan bakti sosial kepada masyarakat di daerahnya masing-masing.

Sampai hari ini peyebaran wabah Covid-19 belum kunjung reda. Oleh karena itu, kita harus terus melakukan upaya pencegahan untuk meningkatkan kewaspadaan tentunya juga dengan mengikuti arahan dan himbauan dari pihak pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah. 

Walaupun sampai hari ini apa yang dilakukan pemerintah terkait penanggulangan Covid-19 belum sempurna, dan untuk mencapai kesempurnaan itu dibutuhkan kerja keras dan kerja cerdas dalam sebuah kerjasama seluruh lapisan masyarakat. 

"Salah satunya seperti himbauan supaya masyarakat untuk tetap tinggal dirumah selama kondisi belum stabil, tentu banyak hal-hal yang harus dipersiapkan manakala kita harus menahan diri dirumah seperti persediaan bahan makanan yang dibutuhkan masyarakat yang secara ekonomi tergolong rendah. Oleh karena itu, bantuan pemerintah dan sinergi masyarakat yang ekonominya tergolong menengah ketas akan sangat dibutuhkan," terang Sekjen Pemuda Bulan Bintang ini.

Lanjutnya, dalam hal ini perintah memang sudah menaruh perhatian khusus kepada masyarakat yang secara ekonomi menengah kebawah, dengan mengeluarkan beberapa kebijakan seperti keringanan terhadap biaya listrik, angsuran, dan kebijakan lain yang mencakup segala aspek yang berkaitan dengan penanganan virus covid-19.

"Namun, salah satu kebijakan yang kami juga soroti yaitu tentang penerapan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB). Menurut kami kebijakan ini kurang begitu pas, kami lebih bersepakat pemerintah lebih menerapkan Karantina Wilayah, karena sampai saat ini situasi dirasakan makin memburuk dan sudah saatnya  pemerintah menerapkan Karantina Wilayah alias lockdown dengan segala risiko ekonomi, sosial dan politiknya. Karena nyawa dan keselamatan rakyat jauh lebih penting daripada risiko-risiko yang   saya sebutkan tadi," jelasnya.

Ia menuturkan, seperti Malaysia yang telah menerapkan kebijakan lockdown. PM Muhyiddin mewanti-wanti warganya untuk tidak melanggar aturan lockdown. Sebab menurutnya, jika lockdown gagal, negara akan menghadapi wabah gelombang ketiga yang penyebarannya tidak akan terkendali.

Akan tetapi anehnya justru pemerintah Indonesia saat ini memberlakukan penerapan PSBB, maka dari itu Pemuda Bulan Bintang menyarankan pemerintah harus sudah mulai menerapkan Karantina Wilayah. Sebab di Indonesia saat ini, kasus Covid-19 per tanggal 3 Maret kemarin sudah mencapai 1.986 kasus yang dinyatakan positif 134 dinyatakan sembuh dan 181 pasien yang meninngal dan secara global, Covid-19 telah mencapai 900.306 kasus yang dinyatakan positif dan 45.692 pasien yang meninggal, itu berdasarkan data yang terdapat di Pusat Informasi Covid-19 Kominfo RI," tutur Diah.

Diah selaku Sekjen Pemuda Bulan Bintang, yang kali ini mewakili Ketua Umumnya menyampaikan ucapan terima kasih kepada para pihak yang telah berpatisipasi, juga pada teman-teman karang taruna kelurahan Pulogadung yang telah membantu dalam proses pendistribusian bantuan melalui door to door sehingga acara baksos dapat berjalan lancar.

"Semoga segala kebaikan menjadi amal ibadah serta bermanfaat bagi yang menerimanya, tidak lupa kami juga membuka pintu kerjasama selebar-lebarnya dengan orgabisasi-organisasi kepemudaan lainnya dan juga teman-teman milenial di seluruh nusantara untuk bersinergi kembali dalam agenda-agenda Pemuda Bulan Bintang berikutnya," tutupnya.

Jumat, 20 Maret 2020

Siapa Pendeta GT Ng yang Olok-Olok Pemilu Indonesia


SIAPA PENDETA ADVEN G.T Ng INI YG BERANI OLOK2 POLITIK INDONESIA? EMANG POLITIK DIKTATOR SINGAPURA NEGARANYA LEBIH HEBAT? Apakah sudah selesai 'kasus' kaitannya dgn ajaran sesat GAFATAR?

Video seorang pendeta Kristen Adven dari Singapura G.T Ng pernah heboh di Pemilu 2019.

Ntah knapa dia tak menyindir pemilu di Singapura yg otoriter agar pemilik kedaulatan org Melayu ttp termarjinalkan dr politik. Jikapun diangkat jd pejabat hrs berdasarkan belas kasihan dr pendatang yg kini kuasai semua hal.

Jika dilirik ke belakang Gereja Adven, yg punya jaringan dr Aceh smp Papua ini, pernah disebut Bibit Samad Rianto mempunyai hubungan sengan gerakan sesat Gafatar yg membawa2 nama Islam. 

Walaupun secara publik dibantah, namun imej Islam saat itu diberbagai media sdh berhasil dirusak dgn tuduhan 'persekusi' terhadap minoritas.

https://m.detik.com/news/berita/d-3121870/gereja-masehi-advent-hari-ketujuh-tegaskan-tak-ada-hubungan-dengan-gafatar

Islam digambarkan tak punya hak koreksi, dan segala perbaikan kpd aliran sesat, baik krn ketidaktahuan jamaah maupun hasil dr 'gerakan intelijen dan teror' dr unsur luar digambarkan sebagai persekusi. Dengan harapan ada korban yg smkn terpuruk n bs dengan sukarela murtad. Sebuah modus yg sdh jamak terdengar sejak penjajahan Belanda.

(Baca: Pendeta Adven disebut ciptakan 3 aliran sesat dalam Islam)

https://www.nahimunkar.org/soal-gafatar-pendeta-robert-waelan-harus-dipidanakan/

Berikut infonya:

http://news.rakyatku.com/read/170710/2019/11/14/kpu-sebut-pakar-teologi-gereja-advent-ini-video-utuh-saat-pilpres-jadi-tertawaan-di-luar-negeri

https://youtu.be/Jhg8Fyh21BY

Sumber: https://www.facebook.com/198083114333891/posts/436659547142912/

Baca juga:

Pendeta Robert Paul Waelan dan Gerakan Gafatar

BANDUNG (Arrahmah.com) – Menurut Ustadz Suryana Nurfawa, Ketua gerakan pagar akidah (Gardah), selain Ahmad Mosadeq yang sudah mendekam di penjara, gembong Gafatar yang harus dipidanakan adalah pendeta Robert Waelan. Sebab pendeta dari Gereja Masehi Adven Hari ke Tujuh ini yang membuat tiga aliran sesat, yakni Milah Ibrahim, Islam Hanif dan Alqiyadah al Islamiyah.

Katanya pendeta Robert Waelan jelas terkait dengan Gafatar

“Karena ajaran Gafatar diambil dari Alqiyadah, dan Alqiyadah dari dia (Waelan-red) yang mengaku reinkarnasi Waraqoh bin Naufal yang membenarkan kenabian Ahmad Mosadeq,” ungkap Ustadz Suryana kepada Arrahmah.com, Jumat (15/1/2016).

Dikatakannya pendeta Waelan Melanggar KUHP pasal 156a dan Undang-undang no.1/PNPS tentang penodaan agama.

Kata dia Gardah pernah menyampaikan hal ini kepada Forum Umat Islam pada sidang umat Islam di Bandung tahun 2010 dengan data lengkap.

“Tapi gak ada langkah sampai sekarang. Kami perlu kelompok yang bergerak di Jakarta,” katanya bersemangat.

Dia menyebut Alqiyadah Alislamiyah ini setelah dibekukan oleh pemerintah, dan pimpinannya Ahmad Mosadeq dijebloskan ke penjara maka tak lama kemudian para kadernya merubah nama menjadi Gafatar.

Menurut Ustadz Suryana, mereka cerdik supaya Gafatar yg merupakan reinkarnasi Alqiyadaj Alislamiyah ini bisa eksis maka didaftarkan ke Kesbanglinmas Kementerian dalam negeri sebagai Ormas.

“Gafatar banyak diundang oleh pemerintah sebagai Ormas,” katanya.


(nahimunkar.com)

Jumat, 13 Maret 2020

Kenangan Haji Tahun 1953

Ini koran tahun 1953. Iklan bawaan jamaah haji. Tahun 1953, wukufnya pada bulan Agustus. Artinya cuaca lg panas-panasnya.

Pada saat itu Indonesia sedang dipimpin oleh Kepala Pemerintahan PM Ali Sastroamidjoyo sejak 30 Juli 1953 – 12 Agustus 1955. Dia punya dua wakil PM Zainul Arifin Pohan (dari NU asal Barus) dan Wongsonegoro. 

Ini foto2 haji tahun 1953

https://kisahmuslim.com/4665-kenangan-dari-haji-tahun-1953.html

Lihat sumber dari perpusnas:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=3825288244178201&id=380536335320093




Jumat, 13 Desember 2019

Habib Luthfi bin Yahya Dilaporkan akan Diangkat Jadi Wantimpres

ilustrasi


MEDIA ISLAM -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan melantik sembilan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Merdeka Jakarta, Jumat (13/12/2019) sore. (sumber)

Satu dari sembilan nama yang ditunjuk menjadi Wantimpres adalah politikus senior PDIP, Sidharto Danusubroto.

Dia mengaku sudah mendapatkan undangan untuk pelantikan.

"Iya sudah dapat undangan (pelantikan)," kata Sidharto saat dihubungi wartawan, Jumat (13/12/2019).

Sidharto juga mengungkap nama-nama yang juga ditunjuk Jokowi menjadi Wantimpres.

Selain itu, Jokowi juga menunjuk Habib Luthfi bin Yahya untuk mengisi posisi Wantimpres.

Ada pula nama pengusaha Putri Wardhani.

"Ada Pak Wiranto, Agung Laksono lalu Arifin Panigoro," tambah Sidharto.

Informasinya Mantan Gubernur Jawa Timur Soekarwo juga termasuk dalam 9 calon Wantimpres.

TNI Harus Dapat Menjadi Faktor Penguatan Pancasila

ilustrasi


MEDIA ISLAM -- Saat ini isu radikalisme yang dapat berkembang menjadi tindakan terorisme telah menjadi ancaman nyata yang mengemuka di tengah-tengah masyarakat. Sejak dahulu keberadaan radikalisme, baik itu radikal kanan dan kiri maupun radikal lainnya harus selalu di waspadai. Untuk itu, sebagai bagian dari bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika ini, TNI harus dapat menjadi faktor pendukung penguatan Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah hidup bangsa. (baca)

Demikian sambutan tertulis Panglima TNI Marsekal TNI Dr. (H.C.) Hadi Tjahjanto, S.I.P. yang dibacakan oleh Irjen TNI Letjen TNI M. Herindra, M.A., M.Sc. pada acara Dialog Strategi Pembudayaan Pancasila, bertempat di Hotel Lorin Sentul, Bogor, Jawa Barat, Kamis (12/12/2019).

Panglima TNI menjelaskan bahwa hal yang perlu diantisipasi adalah aksi-aksi demagoguing yang memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Bentuknya dapat berupa tindak kriminal, pembentukan opini berdasarkan hoaks atau penyesatan, yang kesemuanya dapat berakibat sangat buruk dalam kehidupan berdemokrasi. “Dampak yang paling buruk adalah terpecah belahnya bangsa, delegitimasi pemerintahan yang sah melalui kampanye hitam dan aksi demo anarkis. Contoh nyata dari aksi-aksi demagoguing tersebut adalah peristiwa Arab Spring yang telah mengkoyak bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah,” ucapnya.

Selanjutnya dikatakan bahwa TNI berperan penting terutama dengan jangkauan lingkungan serta jaringan sosial yang dimiliki untuk membangun kesadaran persatuan dan kesatuan itu. “Bangun pemahaman bahwa seluruh komponen bangsa harus bersinergi agar bangsa Indonesia siap menghadapi tantangan di masa mendatang. Siap dalam arti membangun generasi masa depan yang unggul dan berpegang teguh pada Pancasila sebagai dasar negara,” terangnya.

Prajurit-prajurit TNI adalah prajurit yang sangat dibanggakan oleh rakyat Indonesia. TNI dikenal sebagai organisasi yang paling solid karena memiliki disiplin tinggi, kehormatan, loyalitas yang tinggi serta semangat jiwa korsa (esprit de corps) yang kuat.  “Dalam konteks kekinian, adanya ancaman hoaks yang beredar melalui jaringan media sosial, jangan sampai membuat kita terpecah belah, kemajuan teknologi dan perkembangan kehidupan sosial, Prajurit TNI tidak boleh kehilangan disiplin, kehormatan, loyalitas, dan menggadaikan jiwa korsa,” ujarnya.

Panglima TNI menegaskan bahwa keberadaan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia bukan sekadar jargon yang tanpa makna. Pancasila lahir dari kristalisasi nilai-nilai luhur bangsa yang hakiki. Pancasila berisi kebenaran dan pembuktian bahwa hanya dengan memedomani dan mengamalkan sila-sila didalamnya, eksistensi Indonesia tetap dapat dipertahankan dari berbagai ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang mendera.

“Pengamalan Pancasila, UUD 1945 dan menjunjung tinggi semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan kita sehari-hari merupakan syarat mutlak demi tetap tegaknya NKRI. Hal ini berarti, legitimasi 4 Pilar Negara ini sama halnya dengan legitimasi kedaulatan negara Indonesia itu sendiri,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Panglima TNI  mengingatkan kembali  terkait pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. “Bahwa sesungguhnya kekuatan kita sebagai bangsa yang besar ada pada toleransi, tenggang rasa, saling menghargai dan menghormati, serta menyadari perbedaan namun lebih melihat kesamaan sebagai bangsa yang bermuara pada persatuan dan kesatuan yang kokoh,” tutupnya.

Sarasehan Pembinaan Idiologi Pancasila dan Dialog Strategi Pembudayaan Pancasila diikuti 150 Perwira Tinggi TNI dari Mabes TNI dan Mabes Angkatan, merupakan kerja sama antara BPIP RI dengan Mabes TNI dalam hal ini Pusbintal TNI. Acara tersebut dibuka oleh Plt Kepala BPIP Prof. Hariyono, dan menghadirkan beberapa narasumber seperti DR Ngatawi Al Zastrouw (Budayawan), DR Kusnanto Anggoro (Pakar Politik dan Militer), J.J Rizal (Sejarawan), Direktur Pembudayaan Pancasila BPIP Irene Camelyn Sinaga.

Rabu, 27 November 2019

Guyub Bersama di #Reuni212?

ilustrasi
MEDIA ISLAM -- AKAN ADA ISLAH KUBRA DI #REUNI212? WAKTUNYA PARPOL JG ISHLAH

Ide pengamat ini agar momen #Reuni212 dijadikan sbgai ishlah besar bersama antara kampret dan cebong paska #Pilpres2019 cukup menarik. Walau sdh diawali di stasiun MRT lalu oleh kedua mantan capres.

Wapres KH Maruf Amin sbgai alumni 212 dan Ketua Penasihat KS212 diharapkan untuk hadir.

Jika perlu yg lain juga ishlah misalnya antara mantan2 caleg dan pengurus parpol pendukung Prabowo dan Jokowi di PBB, PPP, Demokrat, PAN dll yg dulu smpt beda jalan. Umat tntunya msh trngat ktk oknum tertentu 212 memperlakukan (menista) bendera sbuah partai dgn tdk layak dlm momen kampanye dan oknum2 yg teriak untuk menggelamkan parpol itu.

Jika Jokowi dan Prabowo sdh berangkulan, pendukungnya jg harusnya demikian.

212 tdk lg dipandang sbgai pendukung Prabowo yg hrs dijauhi. Prabowo sdh mendukung pemerintah sbgai Menhan. Tentu sejatinya FPI, GNPF dll adalah bagian tak terpisahkan dr pemerintah.

212 telah berhasil menggolkan alumninya jd Wapres RI 2019-2024 dan lbh dr itu bs menghantarkan jagoannya sbgai Menhan. Sehingga 212 secara langsng atau tdk lngsng hrs ikut bertanggung jwb kpd publik jika performa pemerintah tdk sprti yg diharapkan.

Dukungan 212 atas dipilihnya Ahok sbgai Komut Pertamina jg menandakan bhwa 212 kini sdh mnjd wadah lintas border yg dicintai dan didukung oleh semua pihak..

http://superdamai-212.blogspot.com/2019/11/paska-cebong-kampret-bersatu-jagoan-212.html?m=1

Senin, 18 November 2019

Ketum Sarekat Islam (SI) @HamdanZoelva Jelaskan Organisasinya Sebarkan Pemikiran Tjokroaminoto

ilustrasi


MEDIA ISLAM -- Ketua umum Sarekat Islam (SI), Hamdan Zoelva mengatakan bahwa saat ini pihaknya akan menyebarkan kembali pemikiran Tjokroaminoto. (baca)

Hal tersebut dilakukan karena pihaknya akan menata kembali sekolah-sekolah di Indonesia, khususnya sekolah SI, dari tingkat SD hingga perguruan tinggi.

“Mulai sekolah kebangsaan sesuai inisiasi dari pencerahan inisiator SI, akan dikembangkan pada anak-anak muda,” ujar dia ketika ditemui Republika.co.id di Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) SI, Jakarta, Kamis (14/11).

Dia menambahkan, pada 2020 hal tersebut akan mulai digencarkan SI. Bahkan hal tersebut akan memiliki gaung yang besar ke depannya.

“Kita sudah memutuskan sejak awal saya menjabat, pada kongres pertama SI saya, SI akan kembali ke dasar pemikirannya,” tuturnya.

Pasalnya menurut dia, SI sudah terlalu lama bergerak di konstelasi politik, terlebih para anggotanya secara masif hijrah pada politik dari pada ekonomi yang seharusnya menjadi pandangan awal.

Bahkan menurut dia, hal tersebut terjadi sejak didirikannya partai Islam pertama yang diinisiasi SI. “Namun saat kongres kemarin di Bandung, kita memutuskan untuk selesai di politik. Dan kembali fokus pada dakwah, khususnya dakwah sosial ekonomi,” kata dia.

Dia menegaskan, pada Mukernas SI kali ini, agenda utama adalah untuk mengevaluasi kinerja agar diperdalam. Terlepas dari rencana untuk kembali menyebarkan benih dan gerakan dakwah ekonomi Islam yang akan digaungkan.

“Dakwah ekonomi bertujuan untuk mengembangkan ekonomi umat, yang di dalamnya ada dakwah, dan kita juga akan melakukan dakwah pengembangan jalur ekonomi,” tuturnya.

Senin, 28 Oktober 2019

Amien Rais Beri Kesempatan Kabinet Indonesia Maju Bekerja

ilustrasi
MEDIA ISLAM -- Politisi senior PAN, Amien Rais, akhirnya buka suara soal manuver politik Prabowo Subianto dengan Partai Gerindra yang akhirnya bergabung ke Koalisi Indonesia Maju periode 2019-2024.

"Ya saya sudah bertemu dengan Pak Prabowo, kemudian saya hanya mengatakan embanlah (jabatan Menteri Pertahanan) Pak Prabowo sesuai dengan cita-cita kita semua," kata Amien. (baca)

Hal itu disampaikan Amien Rais kepada wartawan usai menjadi pembicara kajian dengan tema 'Islam & Komunis (bahaya laten komunis)' di Masjid Jami' Karangkajen, Yogyakarta, Minggu (27/10/2019) malam.

Amien menuturkan Menteri Pertahanan (Menhan) merupakan jabatan strategis. Di jabatan itu banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama dalam membenahi pertahanan negara dari intervensi asing.

"Jadi dalam zaman sekarang ini banyak sekali gejolak nasional sebagai bangsa itu kena rembesan atau intrusi dari negara asing. Tapi lama-lama kedaulatan negara tersebut bisa tipis, akhirnya bahkan lenyap," ungkapnya.

"Indonesia ada gejala seperti itu ya, kalau tidak hati-hati, kita harus betul-betul sadar bahwa kita negara yang semestinya masih agak lemah di bidang militer, di bidang ekonomi, diplomasi dan lain sebagainya," sambungnya.

Mengingat pentingnya jabatan yang diemban Prabowo, oleh karenanya Amien mengajak masyarakat untuk memberikan kesempatan kepada yang bersangkutan dalam membenahi pertahanan negera dari pengaruh-pengaruh asing.

"Jadi Pak Prabowo harus diberikan fair chance, bahkan kabinet ini pun itu menurut saya jangan dikritik dulu ya. Jadi berikanlah ya tiga bulan sampai satu semester," sebutnya.

Selasa, 06 Agustus 2019

KH Maimoen Zubair Meninggal Saat Hendak Salat Tahajud

KH Maimoen Zubair semasa hidup bersama Syeikh Ali Akbar Marbun pengasuh Pesantren Al Kautsar Al Akbar



MEDIA ISLAM -- Ustad Solmed atau bernama asli Sholeh Mahmoed Nasution menceritakan bahwa ulama kharismatik KH Maimoen Zubair atau akrab disapa Mbah Moen, meninggal dunia saat hendak melaksanakan salat tahajud, Selasa, 6 Agustus 2019. Mbah Moen diketahui sedang melaksanakan ibadah haji di Mekkah, Arab Saudi.

"Beliau mau tahajjud, selesai wudhu, lalu tidak sadarkan diri," ujar Ustad Somed saat dihubungi Tempo pada Selasa, 6 Agustus 2019.

Setelah tak sadarkan diri, Kiai Maimoen dibawa ke Rumah Sakit Annur, Mekkah, Arab Saudi. "Setelah dibawa ke rumah sakit, beliau wafat kurang lebih jam 4.17 waktu Saudi jelang subuh," ujar Ustad Solmed.

Saat ini, Ustad Solmed sedang berada di rumah sakit menunggu jenazah.

Kabar meninggalnya Mbak Moen sebelumnya juga dikonfirmasi oleh Sekretaris Jenderal PPP Arsul Sani. "Betul, saya juga diberitahu demikian dari Makkah dan dikonfirmasi Gus Yasin Wagub Jateng yang putera beliau," ujar Arsul saat dihubungi terpisah.

Maimeon Zubair atau Mbah Moen wafat di usia 90 tahun. Dia lahir pada 28 Oktober 1928. Hingga berita ini ditulis, Tempo sedang mengonfirmasi penyebab meninggalnya Kiai Maimoen. (sumber)