Tampilkan postingan dengan label daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label daerah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 April 2020

Minggu, 15 Maret 2020

Sikap Ulama Batak Soal Akidah



MENGAPA USTADZ2 BATAK LEBIH BANYAK LEMAH LEMBUT DAN TERKESAN TIDAK TEGAS SOAL AQIDAH?

Jawab:

Belum ada kajian secara khusus mengenai itu. Akan tetapi, dapat dimaklumi bahwa setiap manusia mempunyai cara masing-masing dalam berkomunikasi. Begitu juga orang Batak, khususnya dari Toba. 

Mungkin ada juga ciri khas tersendiri dari kalangan Karo, Pakpak, Angkola, Mandailing bahkan mgkn dari Alas atau Gayo, yg sebagiannya ada yang mengasosiasikan diri sebagai orang Batak.

Dan juga, semua manusia termasuk ustadz sedikit banyak terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya saat berkomunikasi. 

Ambillah yang baik jika dianggap bermanfaat dan sebaliknya.

Wallahu a'lam bisshawab..

Opini, lihat sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1131111347237108&id=751253948556185

Peran Ulama Karo yang Semakin Meningkat



MENGAPA PARA USTADZ DAN TUAN2 SYEIKH DARI TANAH KARO SERING KELIHATAN LEBIH DALAM MEMAHAMI ILMU AGAMA?

Jawab:

Peradaban Islam di Tanah Karo seperti halnya di Mandailing, Simalungun dan Pakpak tidak pernah terputus sejak dahulu.

Tanah Karo diuntungkan karena daerahnya bersambung dengan Langkat ke Timur yang juga merupakan pusat ilmu pengetahuan sejak zaman2 Kesultanan Langkat. Sebagaimana Simalungun dengan Kesultanan Serdang, Asahan bahkan Deli.

Beda misalnya dengan tanah Toba yang merupakan kawasan yang masuk dalam 'Traktat London' sehingga benar-benar diputus dari luar khususnya bagi masyarakat yang menentang penjajahan. Saat itu, bahkan pedagang2 Islam dr Batu-Batu (Singkil) di larang masuk ke Toba (Jane Drakard).

Sehingga jikapun ada pemuka agama Islam di tanah Batak Toba saat itu, belajarnya hanya kepada yang tersedia saat itu. Beda halnya dengan Mandailing dll yang sejak dahulu bahkan era penjajahan tetap meneruskan tradisi belajar ke Mekkah atau tujuan pendidikan lainnya di Timur Tengah.

Baru pada saat jelang zaman Jepang dan kemerdekaan kembali harus diulang dakwah karena banyak orang-orang Toba sudah lupa bahkan yang baru lahir malah tidak tahu sama sekali dengan ajaran Islam.

Saat ini pesantren terbesar di Sumatera Utara yang dibangun masyarakat Karo adalah Raudlatul Hasanah dan ada puluhan lainnya yang diasuh kiyai dan ustad2 berdarah Karo.

Opini, baca sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=650831732371546&id=326422471479142

Peran Ulama Pakpak dalam Membumikan Islam di Dairi dan Pakpak Bharat



MENGAPA PARA USTADZ DAN TUAN2 SYEIKH PAKPAK LEBIH SUKSES MEMBUMIKAN ISLAM?

Jawab

Para pemuka agama, ustadz dan tuan2 Syeikh berdarah Pakpak memang mempunyai daya juang yang tinggi.

Saat ini masyarakat Pakpak pd umumnya termasuk Kabupaten Dairi, Pakpak Bharat dan sebagian di Aceh Singkil, Aceh Selatan, Subulussalam dan Humbang Hasundutan.

Di Kabupaten Humbng Hasundutan, ada dua kecamatan yang dikenal juga sebagai Tanah Pakpak atau Tanah Dairi yakni Parlilitan dan Tarabintang. Parlilitan mempunyai tempat sejarah bernama Sionom Hudon yg merupakan tempat gugurnya Sisingamangarja XII.

Parlilitan dan Tarabintang dikenal dengan tanah Pakpak Kalasan atau Halason yang mempunyai sejarah lama sebagai tempat menuntut ilmu yang belakangan diidentikkan dengan ilmu kebatinan (mungkin sudah punah). Terdapat jg beberapa desa di kecamatan Pakkat, Humbang Hasundutan yang berbahasa Pakpak seperti Parmonangan.

Kata Kalasan berasal dr bahasa Sansekerta dan terdapat beberapa nama di Jawa dengan sebutan Kalasan juga. 

Senjata keramat orang Batak berasal dr daerah ini bernama Piso Halasan/Halason.

Saat Sisingamangaraj XII wafat tahun 1907, banyak sisa pasukannya yang hidup sebagai petani normal pada umumnya. Sementara rakyat Pakpak terus berjuang dan bergerilya sampai 1930-an.

Di Sidikkalang ada panglima bernama Koser Maha yang dikenal dengan kegigihannya melawan Belanda, yang menjadi pendiri beberapa masjid termasuk Masjid Bintang.

Kegigihan masyarakat Pakpak itu juga terlihat dalam dunia pendidikan. Dairi misalnya sudah mempunyai Sekolah Tinggi Islam dan tentunya lembaga2 pesantren dan Tahfizul Quran, begitu juga Pakpak Bharat. Beda misalnya dengan Humbang Hasundutan, Toba, Samosir dan Tapanuli Utara, yang belum punya sekolah tinggi, bahkan mungkin tak ada pesantren. Walau kapasitas untuk itu bisa saja ada.

Selain diuntungkan dengan akses ke Aceh yang mudah, masyarakat Pakpak juga tdk prnah putus hubungnnya dengan lembaga2 sosial tingkat nasional seperti NU, Muhammadiyah, Alwashliyah dan lain2.

Salah satu cabang Zending Islam yang berpusat di Medan, terdapat di Pakpak Bharat selain di Porsea.

Opini, lihat sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=717909155410059&id=404183293449315

Rabu, 11 Maret 2020

Penemuan Makam Islam di Pakpak Bharat, Bisa Jadi Destinasi Wisata Religi



Mayarakat di Pakpak Bharat, Sumatera Utara, menemukan pemakaman kuno yang diperkirakan dari tahun 1700-an di Lae Meang.

Penemuan ini membuktikan sejarah bahwa Aceh pernah masuk daerah tersebut dan mengembangkan Islam.

Tidak diketahui mengapa para muslim tersebut meninggalkan tempat tersebut, tp kiat dugaan karena invasi Belanda atau Jepang ketika itu.

Lihat selengkapnya:

https://youtu.be/RsSQILpRIbo

https://youtu.be/_28gjk1lU2g